Diresmikan Disparbud Garut, Curug Cisarua Disebut Pecinta Lingkungan Tengah ‘Sakit’

14

GARUT-Terkait peresmian air terjun (Curug) oleh Disparbud Garut beberapa waktu lalu, Curug Cisarua yang berada di Desa Sukamurni Kec. Cilawu Kab. Garut dinilai sudah ‘sakit’.

Hal ini disampaikan salah seorang pecinta lingkungan Eka Santosa, Selasa (14/11). Curug yang berada di ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut dan tinggi 40 m memiliki undakan, berlatar batuan raksasa seperti di jaman “Jurrasic park”, terbilang sangat eksotis. “Sayangnya saat saya ke lokasi turun hujan dan air Curug berubah menjadi keruh, hal ini menandakan bahwa Curug sedang ‘sakit’. ” papar Eka.

Selain itu, di lokasi yang seharusnya steril dari limbah, ternyata masih banyak sampah plastik, bahkan sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) ditempatkan sembarangan, letaknya sangat dekat dengan obyek wisata tersebut.

“Malam hari sebelumnya di area ini ada genset segala. Bila prinsip konservasi dipegang teguh, ini tak boleh terjadi,” tandas Eka.

Eka menilai harus adanya keseimbangan antara manusia serta makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuhan atau ada istilah makhluk eling (manusia), nyaring (hewan & tumbuhan) serta cicing (alam sebagai benda), sehingga biarkan semua hidup alami. Eka menambahkan , sebagai patokan konservasi Curug ini perlu mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes).

“Hadirkan Perdes yang rinci untuk mengatur konservasi ini, kemudian atur penataan lingkungan serta para pengunjung harus membuka sepatu atau sandal, boleh mandi di sekitar Curug namun tak boleh memakai sabun atau odol. Penggantinya, tawarkan alat pembersih tubuh yang ramah lingkungan dan aturan lainnya yang tidak merusak lingkungan, ” tandas Eka. Sementara terkait dengan adanya keinginan untuk membuat taman bunga dan arena bermain anak, menurut Eka, Curug ekosistemnya sudah merupakan taman ‘surgawi’ bagi mahluk di sekitarnya.

“Janganlah, membuat sesuatu yang bertabrakan dengan prinsip konservasi, ” ujarnya.

Perihal pentingnya penerapan konservasi yang benar sejak 2016 mencanangkan kondsi Jabar darurat lingkungan.

“Saya pada tahun 2017 sudah menyatakan perang terhadap penjahat lingkungan,” tandas Eka.

“Segera saya perintahkan ke Gerakan Hejo di Garut bersama pihak tetkait, melakukan pendidikan konservasi bagi warga di sekitar Curug Cisarua,” cetusnya. Menurut Eka pentingnya pendidikan konservasi itu didukung fakta masyarakat adat di Jabar hingga saat ini dengan prinsip ‘Pamali’ diantaranya mampu menjaga keseimbangan alam di sekitarnya.

“Lihat saja masyarakat adat Cikondang di Kabupaten Bandung, warga Kampung adat Kuta di Ciamis, warga Kampung adat Dukuh di Cikelet Garut. Saya tidak omong kosong loh,” tandasnya. Keyakinan lainnya, bahwa sifat dan tabiat warga di sekitar Curug Cisarua sangat penurut. Eka mengaku pernah berbincang dengan pengunjung dan pimpinan formal maupun informal setempat. “Mereka mendukung kala ide dasar ini dilontarkan, namun tidak ada keteladanan dari pimpinan setempat, yakinlah semua ini bisa terwujud,” ujarnya.

Sementara itu menurut Wa Ratno Ketua DPD Gerakan Hejo Kabupaten Garut membenarkan hal tersebut dan berjanji akan segera menindaklanjuti hal itu. Wa Ratno menilai tahap peresmian tak lain sebagai entry point untuk pembenahan masa yang akan datang.

“Secara konseptual, sudah kami ungkapkan ke warga dan pihak tetkait, berikan kami waktu untuk mewujudkannya, bahkan konservasi alam seperti di Korea, China dan Australia segera diterapkan,” tandasnya. ***

BAGIKAN