Peta Cagub, Cawagub & Political Endorser Terkuat di Mata Publik Jabar

22

BANDUNG-Sampai pada periode akhir Oktober 2017, bursa pertarungan politik menuju kursi Jabar 1 didominasi oleh tiga nama, yakni: Ridwan Kamil (34,6%), Dedi Mulyadi (15,3%) dan Dedy Mizwar (11,9%).

Itu disampaikan Kendati Direktur Indocon Fajar Nursahid saat diskusi terbatas dan pemaparan hasil jajak pendapat tentang Peta Cagub dan Cawagub Jawa Barat di Cafe Morning Glory Setrasari Setra Sari Mall Kav C2 No 31, Sukagalih Sukajadi Bandung, Minggu (12/11/2017).

Selain Fajar Nursahid, Direktur Eksekutif Indocon yang pemaparan hasil survei, turut hadir Firman Manan, Pengamat Politik sebagai Pembahas.

Menurut Fajar, meskipun memperoleh angka tertinggi, elektabilitas Ridwan Kamil masih riskan mengingat masih banyaknya pemilih (47%) yang belum mantap dengan pilihan dan menyatakan masih mungkin berubah.

“Ini menandakan ciri dukungan yang volatile, nilai elektabilitasnya mudah tergerus jika figur-figur lain serius melakukan kampanye,” tandas Fajar.

Menurut Fajar hasil perhitungan statistik juga menunjukkan jumlah strong voters Ridwan Kamil hanya sekitar 15% poin dari 35% nilai elektabilitas yang diraihnya.

“Jumlah strong voters ini masih jauh dari cukup untuk mengamankan posisinya dalam Pilkada mendatang,” timpalnya.

Apalagi jika berkaca dari pengalaman dua Pilkada Jabar sebelumnya (2008 dan 2013), kandidat yang elektabilitasnya tinggi terbukti kalah. Agum Gumelar (2008) dan Dede Yusuf (2013) yang dikenal sebagai figur sangat populer juga dengan elektabilitas tertinggi dikalahkan Ahmad Heryawan.

Masih menurut Fajar dalam bursa calon Wakil Gubernur, hasil survei Indocon menunjukkan tiga nama berada di posisi teratas Desy Ratnasari memperoleh elektabi-litas paling tinggi (17%), disusul Uu Ruzhanul Ulum (8%) dan Netty Heryawan (7%).

Hasil survei juga menunjukkan simulasi pasangan-pasangan kandidat, dimana elektabilitas Ridwan Kamil–Daniel Muttaqien memiliki elektabilitas yang lebih baik ketimbang dipasangkan dengan Uu Ruzhanul Ulum.

Demikian juga pasangan Dedy Mizwar-Netty Heryawan elektabilitasnya lebih baik dibanding jika berpasangan dengan Ahmad Syaikhu. Sementara pasangan Dedi Mulyadi-Desy Ratnasari juga memiliki peluang elektabilitas lebih baik dibanding jika berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno.

Survei juga mengkonfirmasi adanya figur-figur kunci yang dapat berperan sebagai political endorser, diantaranya Presiden Jokowi, Prabowo Soebianto, Megawati Soekarno Putri dan Ahmad Heryawan.

Hasil survei menunjukkan, ke empat figur kunci ini memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap kandidat yang didukungnya.

Jokowi memiliki 40% pengaruh terhadap pemilih. Prabowo Soebianto adalah pemilik pengaruh kedua setelah Jokowi dengan (34%). Ahmad Heryawan sebagai Gubernur petahana berada di tempat ketiga, memiliki pengaruh terhadap 27% pemilih. Sementara Megawati memiliki pengaruh sebesar 24%.

Dengan demikian, dalam konteks Pilkada Gubernur Jawa Barat 2018, keuntungan akan didapatkan para kandidat atau pasangan kandidat jika memperoleh political endorsement dari figur-figur politik kunci tersebut.

“Dalam kaitan dengan political endorsement ini, dinamika politik internal PKS menarik untuk dicermati karena dua kader potensialnya, Netty Heryawan dan Ahmad Syaikhu, ditimbang dalam bursa Calon Wakil Gubernur.,” kata Fajar.

Hasil survei menunjukkan, citra terkuat dari Netty di mata publik adalah sebagai istri Aher (40%), sementara Aher sebagai political endorser memiliki pengaruh terhadap 27% pemilih. Jika benar misalnya Netty didorong sebagai Calon Wakil Gubernur, keuntungan politik akan diperoleh karena hubungan asosiatif yang relatif dekat ini.

Demikian juga dengan Ahmad Syaikhu yang memiliki citra terkuat sebagai politisi PKS (37%). Jika benar dicalonkan sebagai Calon Wakil Gubernur dan di-endorse oleh Ahmad Heryawan, juga akan memperoleh keuntungan politik serupa.

“Kapitalisasi terhadap para tokoh kunci sebagai political endorser yang memiliki pengaruh publik yang luas ini dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan kandidat menghadapi pertarungan politik Pilkada Jabar 2018,” ujarnya.

Metodologi

Survei mewakili pendapat masyarakat Jawa Barat berusia 17 tahun atau sudah menikah (eligible voters).

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 971 responden sampel (dari 1000 responden yang direncanakan). Sampel ditentukan secara proporsional terhadap populasi penduduk yang tersebar di 27 kabupaten/kota di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat, sepenuhnya dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling).

Margin of error diperkirakan sebesar +/- 3,1 % pada tingkat kepercayaan 95%. Pengumpulan data berlangsung pada tanggal 10 – 22 Oktober 2017.

Tentang Indocon

Indokonsultama Research and Consuting (Indocon) adalah lembaga riset independen yang lahir dari para profesional, peneliti, aktivis, dan jurnalis yang memiliki kepedulian terhadap terciptanya tata kehidupan sosial, budaya dan politik Indonesia yang lebih baik.

Berdiri pada Oktober 2016, Indocon berkhidmat untuk mengembangkan tradisi riset sosial dan politik yang jujur dan akuntabel; menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalitas dan obyektivitas sebagai pilar penting penelitian.

Kredo bahwa penelitian bisa saja salah, tapi tidak boleh berbohong menjadi kesadaran bersama sekaligus tradisi yang hendak dibangun, sebagai upaya untuk mendapatkan kepercayaan publik terhadap lembaga dan menempatkan kembali aktivitas penelitian pada tempatnya yang mulia untuk memproduksi pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.***

BAGIKAN