Soal Impor Beras, Sulsel Tak Terpengaruh

Stock Beras Foto Jatim Today

MAKASSAR-Provinsi Sulawesi Selatan tidak terpengaruh adanya rencana impor beras sebesar 500 ribu ton dari Thailand dan Vietnam akan masuk ke Indonesia pertengahan Januari tahun ini.

“Kami di Sulsel tidak terpengaruh impor beras, bahkan kami suplus setiap tahun, dan saat ini hampir masuk masa panen,” ujar Kepala Divisi Perum Bulog Sulselbar Dindin Syamsuddin, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat dilansir Antara Sabtu,(13/1).

Menurutnya, selama ini Sulsel telah mengirimkan beras hampir ke seluruh provinsi di Indonesia, di luar Lampung, Jawa Timur, dan Jawa Tengah karena daerah ini merupakan produsen sentra beras.

Menurutnya, stok beras di Sulsel masih terdapat 12 ribu ton beras cadangan di luar masa panen, sehingga dijamin stok beras di Sulsel sangat aman dan tidak perlu menerima impor beras dari negara lain.

“Sulsel tidak punya sejarah menerima beras impor karena stok kami jamin aman. Tahun ini kami mulai pemulihan dengan memberikan kelonggaran kepada petani dengan membeli gabah dengan harga tinggi,” katanya lagi.

Selain itu, Bulog Divre Sulselbar akan mengirimkan sebesar 60 ribu ton beras ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sana. Sedangkan Ambon dan Maluku juga telah dikirimkan sebanyak 300 ton beras untuk dikonsumsi warganya.

Baca juga : 100 ton beras medium dilepas Bulog Sulselbar

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan Kasan, usai melepas truk operasi pasar di gudang Bulog Divre Wilayah Sulselbar, saat ditanya wartawan terkait kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, beralasan bahwa impor beras untuk menutupi kekurangan stok.

“Beras impor ini menutupi gap stok, sebab yang ada sekarang ini stok berkurang dan masa panen raya masih jauh, sehingga terjadi kekurangan, akibatnya harga naik. Untuk itu digelar operasi pasar,” ujar dia.

Dia memuji Sulsel yang tidak pernah menerima impor beras, namun lebih banyak mengirimkan beras ke provinsi lain bahkan ada yang diekspor ke luar negeri.

“Di Sulsel kami akui selalu surplus beras dan tidak pernah menerima impor beras, bahkan didistribusikan ke daerah lain. Salah satu upaya kita menstabilkan harga dengan menggelar operasi pasar 8 Januari hingga 13 Maret nantinya,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan impor beras sebesar 500 ribu ton telah memiliki landasan hukum Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2018 dan tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Anggaran impor tersebut berasal sepenuhnya dari importir yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero). Impor beras tersebut, kata dia, melihat kondisi pasar dengan berkurang stok beras dan harga semakin melambung di pasaran.

“Beras saya impor, saya enggak usah (perdebatkan) karena itu diskresi saya,” kata Enggartiasto di lingkungan Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Jumat.

Beras yang rencananya diimpor dari Vietnam dan Thailand itu dilakukan oleh PT PPI dan mitra, agar pemerintah bisa melakukan pengendalian. Namun, Enggartiasto mengaku tidak membicarakan soal impor beras dengan Presiden.

Sebelumnya, diberitakan bahwa keputusan untuk melakukan impor beras setelah pemerintah, Satgas Pangan, dan Bulog melakukan operasi pasar (OP) sejak November hingga Desember 2017 untuk menekan harga beras medium kian meningkat.

Dampak dari OP, menurut dia, nyatanya tidak memberi pengaruh signifikan terhadap penurunan harga, bahkan puncaknya pada awal Januari 2018 harga beras medium berada pada kisaran Rp11 ribu per kilogram atau di atas HET yang ditentukan, yakni Rp9.450 per kilogram untuk wilayah Jawa. ***

Redaksi

BAGIKAN