Shah Marai, Jurnalis AFP itu Tewas Terkena Ledakan di Kabul Afghanistan

KABUL-Dua ledakan menghantam Kabul, Ibu Kota Afghanistan, pada Senin, yang menewaskan sedikit-dikitnya 21 orang, termasuk juru foto kantor berita Prancis AFP, dan belum ada klaim dari pihak bertanggung jawab, kata pejabat setempat.

Juru foto AFP, Shah Marai, termasuk salah seorang dari anggota kelompok wartawan yang terjebak dalam ledakan kedua saat meliput ledakan pertama.

Serangan itu terjadi hanya sepekan sesudah ledakan di pusat pendaftaran pemilihan umum, yang menewaskan 60 orang, di tengah peringatan petugas keamanan terhadap ancaman peningkatan serangan menjelang pemilihan anggota parlemen pada Oktober 2018.

Ledakan pertama pada Senin terjadi di daerah Shashdarak berdekatan dengan bangunan dinas sandi NDS, dan diikuti satu dentuman di luar Kementerian Pembangunan Perkotaan dan Perumahan saat orang memasuki kantor pemerintah tersebut.

Empat orang tewas dan lima lagi luka dalam Ledakan pertama, kata Najib Danish, juru bicara kementerian dalam negeri, dengan menambahkan bahwa pihak berwenang mengirim ambulans ke tempat kejadian tersebut.

Segera sesudah itu, ledakan kedua terjadi di samping kelompok wartawan, yang berkumpul untuk meliput ledakan pertama, menewaskan atau melukai sejumlah juru foto dan kamerawan, kata saksi.

Kepala juru foto Agence France-Presse di Kabul, Shah Marai, tewas dalam ledakan itu, demikian cuitan kantor berita itu di Twitter.

Sementara itu, seorang juru foto Reuters luka ringan akibat pecahan dari ledakan tersebut.

Pihak Kementerian Kesehatan Masyarakat Afghanistan menyebutkan jumlah yang tewas dalam insiden itu mencapai 21 orang dan yang luka 27.

Gerilyawan Taliban, yang berjuang untuk memulihkan hukum keras Islam cara mereka di Afghanistan, pada pekan lalu mengumumkan serangan berkala musim semi dan terjadi pertempuran sengit di beberapa wilayah negara sejak itu.

Ratusan orang tewas dan luka dalam serangkaian serangan tersorot di Kabul sejak awal tahun ini, meskipun Presiden Ashraf Ghani pada Februari menawarkan pembicaraan perdamaian “tanpa prasyarat”(Ant).***

Foto: ilustrasi ledakan/net

BAGIKAN