Pelaku Penganiaya ADS Diproses Hukum, Polres Subang Santuni Anak Korban

SUBANG – Motif dari pemerasan dan pengeroyokan yang berujung kematian tahanan ADS ialah untuk keperluan makan dan minum para pelaku. Kata Kapolres Subang, AKBP Muhammad Joni tindakan pemerasan dan penganiayaan merupakan inisiatif dari tahanan kemudian yang lain ikut-ikutan menganiaya.

“Itu inisiatif dari tahanan sendiri mungkin ada yang dianggap jagoan di sana (dalam tahanan, red) kemudian yang lain ngikut-ngikut. Menurut pengakuan dari pelaku (uangnya) untuk keperluan beli rokok atau ini itulah,” ungkapnya dihadapan wartawan di Mapolres Subang, Senin (16/7/2018).

Kata Joni ada dua orang tahanan berinisiatif melakukan pemerasan yaitu berinisial A dan H. Pelaku dalam pemerasannya menggunakan cara transfer rekening temanya yang berada di luar tahanan. Kepada pemilik rekening telah dilakukan pemeriksaan.

“Sudah kita telusuri (rekeningnya) milik temannya salah seorang tahanan yang di luar (tahanan). Sudah kita lakukan pemeriksaan kepada yang bersangkutan karena sudah 2 kali kita periksa karena ada unsur membawa (uang). Secara pembuktian sudah cukup,” bebernya.
Joni menampik jika kasus ini ditutup-tutupi. Kata dia setelah mengetahui ada indikasi pemerasan dan penganiayaan langsung melakukan pemeriksaan.

“Kita lakukan pemeriksaan untuk mengetahui benar ada gak kejadian (pemerasan dan penganiayaan) seperti itu? Kemudian kita terbitkan Laporan Kepolisian Model A. Dari situlah ada pengakuan dari pelaku bahwa ada penganiayaan oleh teman-teman sesama tahanan dan nilai uang (pemerasan oleh para pelaku),” bebernya lagi.

Setelah itu kata dia pihaknya melakukan penyelidikan dan ditemukan 2 unsur tindak pidana.

“Yaitu tindak pidana penganiayaan dan tindak pidana kekerasan,” imbuhnya. Kemudian disiapkan tuduhan penganiayaan dan pemerasan dengan menetapkan 13 orang pelaku 1 orang diantaranya tindak pemerasan. Termasuk polisi yang jaga lalai sehingga terjadi tindak pidana kita periksa juga. “(Aggota Polisi jaga) itu kita proses oleh Propam. (Karena) tidak boleh ada ‎penganiayaan (oleh anggota kepolisian),” katanya.

Joni menegaskan bahwa proses kepada para pelaku pemerasan dan penganiayaan telah dilakukan sejak awal sebenarnya. Karena penganiayaan yag mengakibatkan kematian perlu bukti penyebab kematiannya dari Labfor. “Itu ‘kan penyebab matinya harus dibuktikan. Apa penyebabnya? Oleh penganiayaan atau sebab lain? (Sakit) lambung akibat penganiayaan atau stres? Itu ‘kan harus kita buktikan. Ini ‘kan berbicara yuridis,” ujarnya menerangkan.

Kepada para tersangka pemerasa dan penganiyaan disangkakan pasal 170 KUHP dengan acaman hukuman diatas 5 tahun.

Kepada keluarga ADS, Polres telah memberikan bantuan karena kejadian penganiayaan dan pemerasannya di Kantor Polres.

“Bantuan biaya pengobatan dan pemakaman. Bahkan ada kita berikan juga bantuan kepada anak-anak korban untuk biaya pendidikan selama setahun. Kita tahu korban itu meninggalkan 4 orang anak,” kata Joni.

Istri korban ADS, Acu Kartini mengharapkan para pelaku dan yang terlibat bisa dihukum seberat-beratnya. Dia juga berterima kasih kepada Kapolres yang telah siap membantu biaya pendidikan anak-anaknya.

Seperti diberitakan sebelumnya korban ADS adalah tersangka yang ditangani Penyidik Sat Reskrim Polres Subang dalam dugaan perkara penipuan dan atau penggelapan atas laporan Rumondor Afianto.

Namun selama dalam tahanan dilaporkan mendapatkan pemerasan dan penganiyaan oleh sesama tahanan yang mengakibatkan meninggal dunia setelah mendapat perawatan di RSUD Subang.***

Satriya | Indowarta