Selama Bandung Utara Minim Tangkapan Air, Cekungan Bandung Tetap Terancam Banjir

Foto: Ilustrasi.

BANDUNG-Bencana banjir akan terus mengancam cekungan Bandung saat musim hujan, selama daerah tangkapan air (catchment area) di kawasan Bandung utara (KBU) masih rendah. Idealnya daerah tangkapan air di suatu wilayah ialah 30 persen, sedangkan hutan di KBU hanya menutupi 6,5 persen daerah tangkapan air.

Menurut Administratur Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bandung Utara Komarudin, pengelolaan hutan yang dilakukan Perhutani kerap disorot setiap kali terjadi banjir besar di Bandung. Padahal, kalau melihat peta, dia mengatakan, hanya 6,5 persen hutan di daerah tangkapan air KBU yang dikelola oleh Perhutani.

“Selepas itu, ada pemukiman atau perkebunan, yang itu sudah di luar kawasan kami. Yang perlu dipahami, kawasan hutan hanya menyumbang 6,5 persen terhadap catchment area. Aturannya itu minimal 30 persen, baru suatu daerah relatif aman. Jawa Barat bercita-cita punya kawasan hutan lindung 45 persen,” kata Komarudin di Lembang, Senin, 27 Agustus 2018.

Menurut dia, pengelolaan hutan di KBU memiliki banyak tantangan, karena Bandung Raya memiliki penduduk yang padat. Kalau dirata-ratakan, di Pulau Jawa tingkat kepemilikan lahan di bawah 0,2 hektare per orang. Akhirnya, kata dia, masyarakat menggunakan lahan perkebunan atau hutan untuk bermukim.

“Dengan tekanan yang tinggi ini, di dalam pengelolaan hutan kami mengemban tiga misi, yaitu misi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ekonomi karena kami badan usaha milik negara, yang dituntut harus untung. Profit yang kami peroleh untuk diserahkan ke negara. Misi lingkungan karena fungsi hutan harus tetap ada,” katanya.[pr.com]