Sempat Ikut Berjuang Tumpas DI/TII, Suwardi Minta Kemerdekaan dijaga

SUBANG- Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia memang tidak didapat secara gratis dan cuma-cuma, namun melalui perjuangan keras para pahlawan bangsa, dalam sebuaj kesempatan Wartakini.co mengajak seorang mantan pejuang Organisasi Keamanan Desa (OKD) yang kini disebut Hansip, dalam kesempatan tersebut Suwardi warga Cijambe menuturkan awal keterlibatan dalam perjuangannya.

“Saya Berjuang dulu jadi OKD sempat juga berjuang melawan tentara DI/TII ikut pagar betis dan sering berperang langsung di kaki gunung Canggah, bersama kawan-kawan yang sekarang banyak udah pada meninggal kawan-kawan saya,” ujar Wardi, 88.

Menurut Suwardi, Pasca kemerdekaan Republik Indonesia malah terjadi perebutan kekuasaan banyak pemberontakan termasuk hadirnya PKI dan Gerombolan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia.

“Kan enggak langsung merdeka dan langsung sejahtera, kami ingin merdeka bukan hanya dari penjajah Belanda di daerah masyarakat tidak tau informasi makanya saat itu banyak fitnah dan isu sesama warga, timbul DI/TII kami sudah dewasa saat itu, ikut pagar betis dan mengejar mereka di kaki gunung Canggah, saya ditempatkan disana,”ujar Kakek kelahiran Cibuluh Tanjungsiang Subang.

Menurut Aki Wardi, jika gerombolan turun gunung sering terjadi korban di masyarakat yang tewas karena dibunuh, kejadian tersebut terjadi berulang hingga akhirnya tuntas namun berganti dengan munculnya gerakan PKI pada tahun 1965.

Dalam kesempatan tersebut Suwardi juga mengungkapkan pembangunan saat ini sudah lebih baik berbeda dengan yang terjadi di zaman dulu, dia pun mengenang ketwrlibatan warga membuka dan mengaspal jalan di berbagai pelosok Jawa Barat.

“Perjuangan dulu itu pedih sekali saya bahkan pernah ikut membuka jalan ke Jatiluhur, ikut mengaspal jalan Subang-Sumedang, saya sekarang sudah tua cuma titip jangan sia-siakan perjuangan kami,” imbuhnya.

Berharap Nasib Veteran Bisa Lebih Baik di Akhir Hayatnya.

Dengan gaya bicara masih lantang, Suwardi memang pernah mendapat tunjangan veteran, menurutnya saat itu dia dibayar secara langsung bukan mendapat pensiun bulanan, dia berharap ada perhatian pemerintah terhadap mereka yang rata-rata hidup dalam kemiskinan.

“Sekarang mah diurus anak cucu, ke kebun udah nggak paling ke mesjid dan saya kadang merasa iri dengan tunjangan veteran yang didapat orang yang seharusnya tidak menerima, ya pokoknya para veteran ini masih banyak yang hidup dan mereka miskin dan hidup serba kekurangan, jadi agar pemerintah bisa memikirkan juga kami,” tuturnya.

Aki Wardi juga mengetahui kedatangan tentara Belanda ketika Agresi Militer II tahun 1949, saat itu dia sudah remaja dan saat itu sudah dewasa dan mengetahui perjuangan bangsa Indonesia yang sangat pedih.

“Pemerintah kurang perhatian sama kami veteran perang, kalaupun ada dulu kami hanya pernah sekali menerima tunjangan dan malah banyak orang yang seharusnya tidak menerima pensiunan malah dikasih, tapi ada yang dulu ikut berjuang masih hidup sampai tua nggak pernah nerima tunjangan,” lanjutnya.

Sewaktu Kemerdekaan itu dulu kalimat merdeka itu tak cukup terdengar ke pelosok daerah, ” Saat itu malah terjadi pertumpahan darah sesama anak bangsa saling klaim jasa perjuangan dan yang di pusat tidak mengetahui kejadian pasca kemerdekaan yang ditanggapi berbeda di daerah termasuk di Subang,” pungkasnya.

Sukma| Subang

BAGIKAN