Potensi Subang sebagai Penghasil Buah-buahan Menurun?

SUBANG- Potensi kabupaten Subang sebagai daerah penghasil buah-buahan menurun hal ini diindikasikan dengam banyaknya pedagang buah-buahan yang mendatangkan barang dagangannya dari luar daerah.

Satya, Pedagang buah-buahan di Jalancagak Subang mengaku berdagang dengan suplai dari Bandung, dia bahkan mendapatkan suplai buah manggis dan salak dari Purwakarta.

“Kami mendapat barangnya langsung dari Bandung dan Purwakarta, buah manggis dan salak, apalagi jeruk, kalau semua ada di Subang kami nggak begitu andalkan suplai dari luar daerah, kami kan punya induk kami cuma menjual aja,” ucapnya.

Menurutnya konsumen sendiri merasakan sendiri sulitnya membeli buah-buahan tertentu dari sekitar Subang, Inimah kata Pembelinya juga susah cari pedagang buah-buahan lengkap di dekat daerah mereka.

“Mereka carinya dari minimarket, tentu aja mahal, sebenarnya lebih murah di kami, tapi karena disekitaran mereka minim penjual jadi mereka ke situ (mininarket, red), itupun gak lengkap dan mahal,” imbuhnya.

Harga Mahal Buah-buahan hambat Warga Hidup Sehat

Siti Aisyah, 20 warga desa Cimanggu kecamatan Cisalak bahkan melihat harga buah-buahan yang terlalu mahal, selain itu faktor kualitas juga masih kurang.

“Masih mahal hargamah, kurang bersahabat, baik Manggis, Salak, Jeruk bahkan buah nanas dari Subang juga terkadang dijual terlalu tinggi, pisang juga kayany pisang dari luar negeri, pokoknya Rp. 16-20 Ribuan mah biasa, apalagi buh-buahan tertentu seperti anggur, manggis dan apel,” ujarnya.

Dikonfirmasi soal harga-harga buah-buahan, Yadi pemasok asal Sumedang mengaku jika masalah harga tergantung petani dan musim di daerah, “Tergantung musim dan daerahnya, harga kita beli dari petani dan ketersedian buah-buahan tergantung musim juga, kadang banyak dan sedikit, kualitas juga bisa kecil dan normal, kita juga mencari barang lebih awal bahkan sebelum musim panen, dengan segala resikonya,” katanya.

Yanti, 32 ibu rumah tangga warga kecamatan Tanjungsiang mengaku memaksakan membeli buah-buahaan untuk keperluan sehari-hari, harga mahal membeli buah-buahan baginya bukanlah masalah.

“Supaya sehat aja, mahal gak mahal, saya beli tapi buah-buahan di pinggir jalan nggak ke minimarket atau supermarket, murah aja,” tuturnya.

Bantuan modal bagi pemilik atau pelaku usaha perkebunan buah buahan dianggap perlu mengingat di kabupaten Subang sangat banyak petani yang memiliki lahan tersebut sementara pelaku usaha sektor usaha ritel dan jasa lebih diperhatikan permodalannya baik oleh pemerintah atau perbankan.

BAGIKAN