Dinilai Menjanjikan, 180 Hektar Lahan di Desa Tegalurung disulap Jadi Tambak Udang Vaname

WARTAKINI.CO | SUBANG – Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten yang memiliki kekayaan yang melimpah, salah satunya ada pada sektor perikanan. Selain menghasilkan ikan laut dan tawar, di Subang juga banyak petani yang membudidayakan udang vaname. Ada 3 kecamatan di Subang Utara yang menjadi sentra budidaya udang vaname diantaranya kecamatan Legonkulon, Pusakanagara dan Blanakan.

Budidaya udang Vaname banyak dilirik oleh para petani selain sangat menjanjikan walaupun modalnya juga tak sedikit. Namun memiliki potensi yang menjanjikan. Dengan pangsa pasar di Indonesia yang jumlahnya cukup besar.
Hal tersebut menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan untuk lahan usaha.

Seperti pantauan dilapangan, tepatnya di Desa Tegalurung Kecamatan Legonkulon, setidaknya 180 hektare luas wilayahnya digunakan oleh masyarakat, untuk budidaya udang vaname.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang petani tambak udang vaname yang juga Kades Tegalurung H.Lili Rusnali

Lili mengatakan dari total 180 hektare tersebut, sedikitnya ada 54 petani yang berprofesi menjadi seorang budidaya udang vaname.

Menurut H. Lili, ada perbedaan mencolok antara budidaya udang vaname dengan budaya udang biasa. Menurutnya, vaname ini merupakan tipe udang yang sangat aktif. Oleh karena itu perlakuannya pun sangat berbeda. “Dia hidupnya di tengah artinya 1×24 jam itu aktif seperti tidak tidur, jadi ada perlakuan khusus,” ucap H. Lili.

Jika melihat potensi sendiri dalam sekali panen, dengan kolam 2000 m3 dan dengan bibit 1000 ekor serta dengan angka mortalitas 10% dan kehidupan 90%, maka hasil udang vaname yang dihasilkan saat panen, bisa mencapai 3,8 ton.

“Ya satu empang itu bisa mencapai jumlah itu. Tapi tentu dengan sejumlah catatan seperti size, perlakuan, luas empang dan lainnya,” imbuhnya.

Namun kata dia, saat ini harga udang vaname sendiri terbilang sedang anjlok, persaingan dagang dengan india. “Sumber dari para eksportir udang bahwa harga sekarang lagi jatuh,” tuturnya.

Saat ini harga perkilogramnya dari udang vaname sendiri mencapai Rp 61.000-65.000/Kg.
Untuk itu, Lili berharap, pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan atau Kementerian Kelautan dan Perikanan, secara langsung bisa memberikan bantuan bagi para petani.

Namun hingga saat ini, ia bersama petani lainnya belum mendapat bantuan atau bocoran mengenai bantuan yang akan diberikan.

“Ya memang kabarnya akan ada bantuan, tapi sampai saat ini belum ada kabar, atau bahkan pejabat datang kesinipun untuk melihat budidaya vaname di Tegalurung itu belum,” bebernya.

Ia berharap kedepanya di Tegalurung potensi budidaya udang vaname lebih maju lagi. Ia berharap pemda juga bisa menyediakan cold storage untuk penyimpanan undang.

“Artinya kalau pemda bisa menyediakan cold storage, bahkan harapan petani lebih jauh dari itu, membuat pabrik pengolahan udang, itu harapan kami bagi pemerintah daerah,” tuturnya.

Sebab kata Lili, adanya cold storage atau tempat penyimpanan udang sendiri akan sangat membantu petani di saat harga udang sedang jatuh. “Itu bisa membantu petani, kalau harga turun bisa ditahan dulu,” imbuhnya.

Lili menjelaskan, bahwa ia bersyuur sampai saat ini, para petani terbantu dengan keringanan dan bantuan yang diberikan oleh Bank, untuk permodalan serta PLN soal energi listrik.

Ridwan | Ahya Nurdin