Dorong Pertumbuhan Komoditi, Dewan Rempah Indonesia (DRI) Bentuk Relawan

0
8

Jakarta | Persoalan membangkitkan ekonomi desa, sejak kemerdekaan nampaknya hanya tatanan wacana belaka, karena secara struktur dan finansial belum menyentuh akar permasalahan membangkitkan ekonomi desa.

Saat ini, untuk ke arah itu sudah dipertajam dimana pemerintah telah menyiapkan “payung hukum” membangun korporasi desa dalam kegiatan ekonomi desa, dan sekaligus menyiapkan modal dlm bidang finansial guna membiayai kegiatan ekonomi desa.

Lukman Basri, salah seorang dari anggota Dewan Rempah Indonesia (DRI) menyatakan bahwa, “Harapannya semua output dari kegiatan ekonomi desa dapat memenuhi persyaratan terms & conditionsnya dalam dunia pasar global yg sifatnya serba kompetitif,” ucapnya.

Dalam memenuhi persyaratan itu pemerintah diharapkan agar tidak sekedar memberikan infra dan supra structure. Juga menyiapkan supervisi tentang brain structure berupa terms & conditions yg mendapat rekondisi pasar global. Persyaratan memenangkan persaingan di arena pasar global.

WTO telah mendefinisikannya ke dalam beberapa kreteria; sustainability, tradeability, accesibility, traceability, and hieginity. Karena itu kementerian teknis harus melakukan disseminasi kepada usaha desa. Bukan bersifat protektif yang mengarah kepada pemberian subsidi dumping yang dilarang WTO.

Kehadiran BUM Desa, tidak ujug-ujug lahir tanpa sejarah. Jauh sebelumnya usaha unit desa bermula dari asal otonomi pada era kolonial Belanda yang tidak mau pusing, kegiatan ekonomi desa diserahkan sepenuhnya kepada desa untuk mengatur desanya. Lahirnya Undang-undang Desa perlu pendekatan hubungan konseptual melalui penalaran pikiran yang konstruktif”.

Lukman Basri bersama dengan anggota DRI pernah mengadakan audiensi dengan Kantor Staf Presiden (KSP) pada tahun 2016 yang saat itu, ditemui oleh staf KSP Bambang Suryadi dan Ariani Djalal.

“Pada saat itu kami sepakat untuk membentuk Relawan Rempah yang terus berkegiatan mendorong pertumbuhan komoditi rempah. Salah satunya acara penyelenggaraan diskusi-diskusi, konferensi selama 5 hari beserta pameran Pekan Poros Maritim Berbahan Rempah di Semarang pada tahun 2017,” tegasnya.

“Dan saat ini pendekatan “down-top” Galuh Pakuan Subang semoga bisa menjadi harapan menghidupkan kejayaan rempah Indonesia sebagaimana harapan Presiden Jokowi. Bismillah,” pungkas Lukman Basri.*

Redaksi | Advertorial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here