Mendudukkan Makna Kaya dan Miskin

46
klik di sini

Oleh: Prof.Dr.H. M.Solihin, M.Ag.

Orang Indonesia umumnya menyamakan makna lafazh “al-ghoniy” artinya “kaya”, padahal dlm perspektif kaum sufi bhw lafazh “al-ghoniy” itu artinya “tidak tergantung pd apa dan siapa pun”. Kalau org kaya dg segudang hartanya disebut al-ghoniy itu kurang tepat, karena org kaya masih butuh atau tergantung pd org miskin yg bekerja utk memberi keuntungan pd org kaya itu.

Seorang direktur masih butuh pd anak buah atau bawahannya.
Presiden masih butuh menteri dan bahkan masih butuh suara rakyat.
Begitu juga seorang suami butuh istrinya atau sebaliknya. Seorang anak butuh kepada orgtuanya, dst.

Orang yg masih butuh atau masih tergantung pd org lain, dalam terminologi kaum sufi disebut “al-faqir” (yg artinya adalah butuh, tergantung).
Kalau begitu, yg berhak menyandang gelar “al-Ghaniy” hanyalah Allah, karena Allah “al-Ghoniy” yg berarti tidak butuh atau tdk tergantung pd apa dan siapapun.

Jadi kita ini semua tdk ada yg berhak menyandang gelar “al-Ghoniy”, kecuali Allah. Kita ini semua lebih pantas disebut “al-faqir” (butuh, tergantung). Itulah sebabnya kaum sufi menggelari dirinya dg sebutan “al-faqir”.

Demikian kuliah akhir pekan ini, semoga bermanfaat.