Erna Setiyawati Terpilih Sebagai Ketua DPD GP Jamu Jawa Barat Periode 2019-2023

Bandung, -Pimpinan PT Daun Mas Media Husada Erna Setiyawati, S.E., S.Ag.Kes- akhirnya terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu) Jawa Barat Periode 2019-2023.

Erna Setiyawati terpilih sebagai Ketua DPD GP Jamu Jawa Barat melalui Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) DPD Jawa Barat Tahun 2019, yang dihadiri pemilik suara dari 47 Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional se-Jawa Barat, Rabu, (20/3/2019), di Topas Galeria Hotel jalan Dr. Djunjunan Bandung.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Dwi Ranny Pertiwi mengatakan, harapan dirinya terhadap Ketua DPD GP Jamu Jawa Barat terpilih Erna Setiyawati cukup banyak, “Memang saya akui DPD GP Jamu Jabar telah lama vakum karena saya ditarik ke GP Jamu Pusat, padahal potensi anggota GP Jamu di Jawa Barat sangat besar,” ungkapnya, “Sedangkan GP Jamu di Jawa Tengah dan Jawa Timur tertata dengan baik karena berkoordinasi dengan pemerintahan di sana,” tegasnya.

Biro Iklan

“Namun Saya lihat Erna Setiyawati  sudah biasa menangani masalah dari hulu ke hilir, ia hafal mulai dari bahan baku jamu mentah, macam tanaman obat, dan ahli meramu serta mengolah obat tradisional hingga menjualnya,” ungkap Dwi Ranny Pertiwi, “Termasuk bersinergi dengan para peneliti, dosen, dan pengobat,” tegasnya,”Selain itu Erna Setiyawati sudah sering mewakili saya di berbagai acara, dan saya lihat potensinya bagus dan kemampuannya ada,” tegasnya.

Dwi Ranny Pertiwi mengatakan, nantinya Erna Setiyawati sebagai Ketua DPD GP Jamu Jawa Barat harus netral “Karena GP Jamu diisi anggota dari berbagai agama dan suku, serta para anggota memiliki latar belakang yang berbeda, selain itu masing-masing anggota saling berkompetisi, maka Erna Setiyawati sebagai Ketua DPD GP Jamu Jawa Barat harus bisa mengayomi anggotanya,” pungkasnya.

Ketua Panitia Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP) DPD Jawa Barat Tahun 2019, Sauriana Sitorus mengungkapkan, kendala para pengusaha jamu dan obat tradisional di Jawa Barat memang perizinan, “Bila izinnya sudah mati maka dianggap ilegal padahal masih berproduksi,” ujarnya.

“Maka kami sering melakukan penyuluhan di kabupaten-kabupaten, dan pengusaha jamu dikumpulkan untuk bagaimana mengupgrade perizinan,” ungkap Sauriana Sitorus, “Selain itu perlu adanya sinergi antara akademi untuk penelitian herbal supaya bisa memproduksi obat tradisional yang  baik,” tegasnya.

Lebih lanjut Sauriana Sitorus mengungkapkan, fungsi asosiasi seperti GP Jamu adalah menjembatani antara pemerintah, peneliti, dan birokrasi, “Itulah peran GP Jamu sebenarnya,” ungkapnya, “Oleh karena itu saya dipilih oleh Ketua GP Jamu Pusat untuk mengadakan acara Seminar dan Musda GP DPD Jabar Tahun 2019 yang berlangsung sukses,” pungkasnya.

Saat ditemui para awak Media, Ketua DPD GP Jamu Jawa Barat Erna Setiyawati mengatakan, setelah terpilih menjadi Ketua, dirinya akan berusaha memajukan perjamuan di Jawa Barat, “Mudah-mudahan dengan terpilihnya saya sebagai Ketua DPD GP Jamu Jawa Barat, saya bersama teman-teman lainnya mampu memajukan perjamuan di Jabar,” ujarnya.

“Seperti diketahui, selain memajukan perjamuan di Jabar, DPD GP Jamu Jawa Barat memiliki misi bergandengan tangan meningkatkan keilmuan apoteker maupun pengusaha jamu, mengakomodir permasalahan atau kendala yang dialami pengusaha jamu di Jabar, serta menjalin silaturahmi dan bertukar informasi dengan masyarakat dan pemerintah,” kata Erna Setiyawati.

Erna Setiyawati mengungkapkan, kendala yang dihadapi saat ini adalah masalah perizinan bagi pengusaha jamu, “Apalagi pengusaha jamu dituntut untuk CPOTB yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik,” ujarnya.

Diharapkan dengan kepengurusan DPD GP Jamu Jawa Barat yang baru dapat membantu terkait masalah perizinan, dan informasi terkait perizinan bisa sampai kepada anggota sehingga mereka dapat memperbaiki usahanya,” tegas Erna Setiyawati.

“Ternyata banyak pelaku usaha jamu di Jawa Barat belum memiliki izin, kendalanya karena informasi dan pengetahuan tentang perizinan kurang, maka diharapkan DPD GP Jabar dapat mendampingi mereka untuk mengurus perizinan,” kata Erna Setiyawati.

“Seperti diketahui, GP Jamu menaungi usaha jamu gendong, jamu racikan, pengusaha kecil obat tradisional, industri obat tradisional, bahkan industri ekstrak bahan alam termasuk distributor obat tradisional,” ungkap Erna Setiyawati, “Maka agar kami bisa mengakomodir semuanya, kita membentuk grup Whats App, sehingga ketika mereka ada kendala, kita tidak harus bertatap muka, cukup menginformasikan lewat WA,” ungkapnya.

Erna Setiyawati mengatakan, pengusaha jamu di Jawa Barat yang menjadi anggota GP Jamu Jabar sebelum Musda sebanyak 100 pengusaha, “Menjadi tugas saya ke depan mendata ulang anggota DPD GP Jamu Jawa Barat,” ujarnya.

Mengenai jamu murni dan jamu bahan kimia obat (BKO) Erna Setiyawati mengatakan, untuk membedakannya, jamu BKO (Bahan Kimia Obat) reaksinya langsung terasa beberapa menit di tubuh, dan bentuk fisik jamu BKO ada butiran berwarna putih dan rasanya pahitnya, sedangkan jamu murni butuh waktu beberapa hari untuk merasakan reaksinya.

Erna Setiyawati mengatakan, langkah awal kepengurusan DPD GP Jamu Jawa Barat yang baru adalah mengadakan seminar untuk meningkatkan pengetahuan pengusaha jamu, “Misal dari segi perizinan, dan penguatan industri, baru setelah itu sosialisasi ke masyarakat untuk membedakan jamu murni dan jamu BKO,” ujarnya.

Mengenai diresmikannya Cafe Jamu di Sukoharjo, Erna Setiyawati mengatakan, diharapkan Jawa Barat ikut termotivasi dengan adanya Cafe Jamu, “Semoga dapat memacu kita untuk mensosialisasikan gerai atau Cafe Jamu di Jawa Barat, sehingga Jawa Barat menjadi destinasi wisata khususnya di bidang Perjamuan,” ujarnya.

“Saya sejak tahun 2013 di Bekasi memang sudah memiliki Cafe Jamu di bawah naungan PT Daun Mas Media Husada, karena memang syarat menjadi ketua DPD adalah memiliki usaha Jamu dan obat tradisional,” ungkap Erna Setiyawati, “Memang saya bergerak di UJR atau Usaha Jamu Racikan, dan distributor obat tradisional,” ujarnya.

“Cafe Jamu kami di Bekasi biasa menyajikan Jus Herbal yaitu paduan antara buah-buahan dengan herbal, kemudian Jamu murni, serta minuman kesegaran seperti kunyit asam dan beras kencur,” pungkas Erna Setiyawati.

Seminar dan Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) DPD Jawa Barat Tahun 2019, dihadiri para tamu undangan perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Deputi Penindakan IV Badan POM RI, Kepala Balai Besar POM Jawa Barat, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, dan Disperindag Jawa Barat mewakili Gubernur Jawa Barat.

Berikut susunan kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu) Jawa Barat Periode 2019-2023: Ketua Erna Setiyawati, Wakil Ketua Maheda, Sekretaris Astria Deviana, Bendahara Andri Irmawan.

Dudy