Mari Kita Bangun dan Jaga Kondusifitas di Sosial Media Kita

Indonesia adalah sebagai salah satu negara dengan pengguna Internet Terbesar di Dunia, bahkan Terbesar nomor 1 di Asia Tenggara. Menurut riset yang dilakukan oleh Google dan Temasek pada Tahun 2018, internet menjadikan kita sebagai negara yang bisa dibilang mudah dalam mendapatkan Informasi yang ingin kita cari.

Kita bisa mencari Informasi apapun melalui Internet, selain itu banyak manfaat yang bisa kita ambil dari Internet. Selain itu, yang menarik dari perkembangan Internet di Indonesia ini salah satunya adalah tentang pemanfaatan Internet dalam Perhelatan demokrasi yang dilakukan 5 tahun sekali salah satunya adalah Pemilihan Presiden (PILPRES).

Pada Pilpres kali ini kampanye kedua paslon banyak yang dilakukan melalui Internet khususnya Media Sosial, Timses kedua kubu Calon Presiden ini memanfaatkan Media Sosial sebagai Media untuk berkampanye mengenalkan gagasan, ide ataupun prestasi para calon. Namun terlepas dari itu ada sekelompok orang yang memanfaatkan Media Sosial ini hanya untuk mencari kekurangan dari pasangan calon Presiden dan membagikannya ke setiap media sosial atau ada juga yang menggunakannya untuk Black Campaign.

Panasnya Pilpres 2019 ini juga sangat terasa di Media Sosial daripada realita di masyarakat, karena di media sosial kita tidak bertatap muka dan bisa saja menggunakan akun anonim. Informasi yang berseliweran dalam media sosial dalam masalah demokrasi kali ini sangat sulit untuk kita filter karena sangat mudahnya informasi itu dibuat lalu di sebarkan ke Media Sosial. Beberapa dari kita tidak bisa mengkontrol dan mencari apakah informasi yang kita terima benar atau salah. Dampaknya beberapa orang menggunakan Sosial Media hanya untuk debat kusir ataupun menyebarkan berita bohong atau hoax. Namun kita juga harus sadar bahwa Pemilihan Presiden sudah dilaksanakan, sekarang kita tinggal menunggu hasilnya. Kalaupun ada kecurangan dalam Pilpres ini sebaiknya kita sebagai warga negara yang baik, melaporkan kejadian itu kepada pihak berwenang bukan malah memprovokasi orang lain di Media Sosial. Ini sangat berbahaya apabila fenomena ini berlanjut terus akan ada pergerakan nyata di Masyarakat. Maka dari itu, saya mengajak kita semua khususnya masyarakat Jawa Barat untuk menjaga Kondusifitas dalam Media Sosial, di mulai dari kita sendiri terlebih dahulu. Karena apabila kita tidak mudah terprovokasi maka orang-orang yang membuat provokasi akan merasa bahwa usaha dia sia-sia.

Mari lakukan demokrasi yang sehat, gunakan teknologi untuk hal-hal yang lebih positif agar kita bisa mengambil manfaatnya. Dan juga Mahasiswa sebagai Kaum Intelektual diharapkan bisa menjadi Filter ataupun Penengah dari kekisruhan di Media Sosial ini. Mahasiswa Khususnya yang sedang menempuh pendidikan di program studi Sistem Informasi di Jawa Barat bisa mengedukasi di masyarakat tentang cara bagaimana agar kita tidak mudah terprovokasi ataupun cara untuk bagaimana mencari informasi yang akurat. Karena peran dari Mahasiswa untuk mengkondusifkan suasana pasca Pilpres di Media Sosial sangat di butuhkan, mahasiswa yang melek teknologi harus tidak mudah di provokasi di Media Sosial. Jangan sampai justru mahasiswa sendiri yang menjadi provokator untuk kepentingan suatu kelompok. Mahasiswa harus memiliki Idealisme yang sangat tinggi, karena itu merupakan salah satu kemewahan yang mahasiswa miliki.

Terakhir saya juga selaku Ketua Korwil Jawa Barat Ikatan Mahasiswa Sistem Informasi Indonesia (IMSII JABAR) mengajak kita semua agar menerima hasil dari Pemilu Serentak 2019 nanti dengan lapang dada dan penuh sukacita karena ini merupakan pesta rakyat, pesta itu artinya kita melakukannya dengan sukacita.

Terlepas dari adanya kecurangan dan sebagainya itu ada prosedur yang mengaturnya. Namun tugas kita adalah menjaga kondusifitas khususnya dalam media sosial agar kita bisa menjaga Persatuan dan Kesatuan kita sebagai Rakyat Indonesia. Merdeka !!!

Penulis : Wahyu Himawan Pratama (Mahasiswa Sistem Informasi Unikom)