Peziarah Sesalkan Pengunjung Tak Hormati Makam Ulama Besar di Wanayasa Purwakarta Ini

Foto: Peziarah sedang Berdoa di makam Kyai Ageung di Siti Wanayasa.

 

Purwakarta- Ironis memang, keramaian di bulan suci Ramadhan di kawasan multi wisata Situ Wanayasa kabupaten Purwakarta ini sedikit ternoda segelintir pasangan kaum muda yang datang ngabuburit di sekitar tempat wisata lokal itu.Pasalnya, di kawasan yang terdapat puluhan makam leluhur, para ulama besar Purwakarta, diantaranya makam Kyai Ageung atau Kyai Gede ini terlihat masih ada pasangan yang malah “asyik masyuk” berdekapan memadu kasih.

“Kalau saya lihat masih ada yang tidak menghormati keberadaan makam keramat ini contohnya banyak remaja yang pacaran, di tempat tersebut, mungkin ada tempat sepinya, mungkin nggak tahu sejarahnya, atau gak peduli saya nggak tahu,” ujar seorang peziarah.

Di pulau kecil yang diketahui bernama Pasir Mantri ini bukan hanya tak pernah sepi dari wisatawan lokal, tapi juga banyak peziarah yang datang dari luar kota, seperti dari berbagai pelosok daerah seperti diungkapkan Yadi Nurhedi warga sekitar.

“Yang berziarah dari berbagai daerah di Indonesia hingga Sumatera dan Kalimantan juga, biasanya mereka membaca doa-doa khusus didepan makam, disini ada makam Kyai Ageung, sisanya memang makam para kyai lain dan pengikutnya, jumlahnya sangat banyak tapi gak semuanya terlihat,” ungkapnya.

Para wisatawan lokal yang datang ke situ Wanayasa biasanya mereka ada yang memilih sekedar berfoto main sepeda air atau bermain ayunan menunggu datangnya waktu maghrib.Informasi yang digali Wartakini.co, Kyai Ageung atau kyai Gede yang nama aslinya Rd Tisna Direja Bin Tirta Nagara, menurut silsilah keluarga Kyai Gede masih keturunan dari Sultan Agung Mataram atau lebih tepatnya cucu dari Bupati Kaliwungu.

Kyai Gede memiliki 4 orang anak, bagus asmadi bagus Ali Jamidin, Bagus Jamaludin dan bagus Ali murtala, beberapa peziarah menyarankan pemkab Purwakarta membangun tempat khusus peziarah untuk memuliakan jejak sejarah Islam yang dibawa para ulama ini.

Peziarah tersebut juga mengaku biasa menziarahi makam Kyai Gede di Wanayasa, menurutnya kedatangannya untuk mencari Barokah, “Kyai Gede adalah orang yang sholeh mudah-mudahan kita diberkahi dan dimudahkan jalan hidup dengan mendatangi makam ulama Kyai Gede ini,” ucapnya.

Dari penelusuran kami, cerita di Wanayaaa pernah ada pesantren besar yang dirintis oleh Kyai Agung tak banyak diketahui warga sekitar apalagi para pengunjung, keberadaan pondok pesantren di kawasan ini tinggal kenangan, makam-makam yang terserak dikawasan ini merupakan para santri kyai gede dan keluarganya yang wafat di sekitar tahun 1600-1900-an.

“Pesantrennya bisa disekitar sini, mungkin juga ya gak jauh dari sekitar Masjid Agung Wanayasa, tapi kalau makam yang ada sini saya malah sering tau dari peziarah dari Banten dan daerah lainnya, katanya masih ada hubungannya dengan sejarah Eyang Gofarana, Mama Sempur dan sejarah dakwah Islam sini,” kata seorang Peziarah asal Cianjur.

Kuliner Sekitar Situ Wanayasa Purwakarta

Jika melihat suasana menjelang maghrib selama bulan Ramadhan 1440 Hijriyah ini, warga pengunjung yang datang dari luar kota Purwakarta kebanyakan berburu makanan khas seperti manisan.

“Pengunjung luar kota cari makanan yang jarang mereka temui, disini manisan dan sejenisnya, kripik-kripik, dan kalau makan ke rumah makan yang menghadap ke Situ Wanayasa,” kata Deri pedagang toko makanan di Wanayasa.

Lanjut Deri, warga Wanayasa dan sekitarnya tak begitu tertarik dengan situ, keramaian warga lokal di situ wanayasa pada hari-hari tertentu saja seperti di bulan Ramadhan untuk ngabuburit saja.

Pemkab Purwakarta perlu memperhatikan kawasan wisata Situ Wanayasa ini lebih baik lagi mengingat di tempat ini para pengunjung bisa sekaligus berwisata melihat pemandangan alam, berwisata kuliner sekaligus wisata religi.*

Mohammad Ridwan