Absen di Harlah, Jokowi Sedang Menjauh dari PKB?

JAKARTA-Presiden Joko Widodo absen dalam peringatan Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang digelar Selasa (23/7/2019) malam. Jokowi mengutus Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk hadir di acara tersebut.

Ketidakhadiran Jokowi ini menimbulkan spekulasi: Jokowi sedang menjauhi PKB. Ini lantaran, PKB melalui ketua umumnya Muhaimin Iskandar, sempat meminta jatah 10 menteri untuk kabinet mendatang.

Wakil Sekretaris Jenderal PKB Daniel Johan mengklarifikasi ketidakhadiran Jokowi ini. Menurut Daniel, Jokowi memang tak diundang lantaran undangan untuk Jokowi ditujukan buat muktamar mendatang.

“Kami menganggap Pak Jokowi lagi sibuk. Kami undang Pak Presiden untuk muktamar nanti, bulan depan,” kata Daniel kepada reporter Tirto, Jumat (26/7/2019).

Daniel pun menyebut, permintaan jatah kursi adalah hal wajar. Seluruh partai yang mendukung Jokowi, kata dia, juga melakukan hal yang sama.

“Itu dilakukan sama seluruh partai. Apa bedanya? Enggak ada bedanya. Memang mekanismenya seperti itu kok,” kata Daniel.

Oleh karena itu, Daniel menampik anggapan yang menyebut Jokowi tak menyukai Cak Imin. Menurut dia, hubungan Jokowi-Muhaimin sangat baik, karena PKB masih bagian dari koalisi pendukung Jokowi.

“Masak, enggak baik, gimana?” kata Daniel.

Tak Mau Didikte PKB
Daniel boleh saja berkata demikian. Namun, apa yang ia sampaikan seolah berkebalikan dengan fakta di lapangan. Saat menghadiri Harlah PKB, Jusuf Kalla yang mewakili Jokowi justru menyampaikan salam dari sang presiden karena tak bisa hadir memenuhi undangan.

“Saya ingin sampaikan salam dari Pak Jokowi karena berhalangan hadir dan meminta saya datang ke sini,” kata Jusuf Kalla saat memberi sambutan di acara Harlah PKB ke-23, Selasa malam.

Perbedaaan keterangan ini pun seolah menguatkan dugaan, Jokowi memang menghindari Cak Imin dan PKB. Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Wasisto Raharjo Jati, adalah salah satu yang punya analisis demikian.

Menurut Wasis, sapaannya, ketidakhadiran Jokowi dalam rangkaian harlah PKB menandakan Jokowi tak ingin dianggap kelewat dekat dengan PKB dan menghindari partai yang punya basis massa warga NU itu untuk mendikte dirinya.

“Jokowi ingin PKB tidak terlalu mendikte soal bagi-bagi kursi menteri sehingga ketidakhadiran adalah upaya Jokowi untuk mengingatkan PKB agar mawas diri,” kata Wasisto kepada reporter Tirto, Jumat sore.

Namun, menurut Wasis, ketidakhadiran di Harlah PKB itu tak dapat diartikan Jokowi tak suka terhadap Cak Imin. Wasis berpendapat, Jokowi masih butuh sosok Muhaimin untuk mengkonsolidasikan massa PKB dan NU.

“[Ketidakhadiran] Ini dimaksudkan agar PKB di bawah Cak Imin tidak terlalu ambisius dan lupa diri [saja],” kata Wasisto.

Karena Cara yang Buruk
Pendapat berbeda disampaikan Adi Prayitno, pengajar di Program Studi Ilmu Politik pada UIN Jakarta. Adi menilai, ketidakhadiran Jokowi dalam acara Harlah PKB ke-23 justru menegaskan ketidaksukaan Jokowi terhadap Cak Imin dan PKB.

Menurut Adi, cara Cak Imin meminta jatah untuk PKB yang dilakukan terus menerus dianggap bermasalah. Ini seakan-akan menekan Jokowi.

“Cak Imin dan PKB ini lebih vulgar dan lebih ekstrim ngomongnya. Yang lain agak soft. […] Tentu dalam batas-batas kemanusiawian, presiden juga kurang mood,” kata Adi kepada reporter Tirto, Jumat.

Meski begitu, Adi memprediksi Jokowi tak akan “membuang” Cak Imin dan PKB. Jokowi masih butuh mereka untuk menjadi “bumper” dalam isu keislaman, yang sewaktu-waktu bisa kembali jadi bahan menyerang Jokowi. Hanya saja, cara Imin dan PKB ini akan jadi catatan.

“Memang agak kurang elok. PKB ini ngomongnya ngotot berulang-ulang bahwa mereka itu dapat menteri harus lebih begini, begini. Seperti pamrih dalam politik,” kata Adi.

Redaksi| Tirto.id