Belajar Nyupir Gratis Ala Sekolah Warga Cilacap

Wartakini I Cilacap – 30 tahun lalu mobil masih menjadi barang mewah di Indonesia. Hanya orang kaya dan beberapa pejabat yang kuat memilikinya. Seiring berjalannya zaman mobil yang mewah kini semakin murah, konsentrasi pabrik-pabrik dalam menekan angka jual kini mulai dirasakan dampaknya. Di Indonesia setelah reformasi lalu setelah dibukanya kran pasar bebas dititik itulah mobil-mobil murah mulai masuk Indonesia.

Kini bisa dilihat sendiri jangankan di Jakarta dipelosok kota-kota kecil mobil seperti berhamburan, pembangunan jalan-jalan baru guna mengurai kemacetan dan maraknya bisnis taksi online (yang menggunakan mobil pribadi) adalah penanda mobil secara umum sudah tidak menjadi barang mewah, namun sebagai penunjang pekerjaan sehari-hari. Meski dilain sisi geliat mobil ekslusif yang harganya tak terjangkau juga tak kalah marak, jika dipandang dari sisi ini mobil memang masih jadi standar gengsi dan ajang pamer kekayaan atau pamer teknologi mutakhir.

Sisi lain dari ramainya mobil di Indonesia ini disambut dengan meningkatnya kebutuhan BBM serta perlu adanya stabilisasi stok BBM di seluruh wilayah Indonesia. Lalu legalisasi supaya mendapat Surat Ijin Mengemudi, skup yang lebih kecil lagi adalah menjamurnya lembaga kursus setir mobil sebagian dari mereka juga berafiliasi dengan kepolisian dalam menerbitkan lisensi. Tapi memang seperti kasus mobil mahal diatas, untuk sekedar bisa menyetir mobil dengan kondisi ekonomi kini, bagi banyak kalangan pergi ke lembaga kursus setir mobil itu mahal. Kalaupun tak mahal mereka punya prioritas dengan penghasilan yang pas-pasan lebih diutamakan untuk kebutuhan keluarga.

Sekolah Warga adalah sebuah wadah untuk mengekspresikan semua hasil kongrit dari sublimasi pemikiran kawan-kawan komunitas GERBANG (gerakan anak bangsa) untuk sedikit ikut membantu menjawab persoalan dilingkup sekitar kawan-kawan sendiri.

Dari Kroya Kabupaten Cilacap Sekolah Warga diberi nama Paradesa (yang diambil dari idiom toponimi tentang sebuah masyarakat ideal, surga paradise). Pak Onos selaku tuan rumah dan penginisiasi komunitas GERBANG di wilayah Kroya mencoba menelisik apa yang kira-kira menjadi kebutuhan sekaligus bisa dijawab oleh kawan-kawan di komunitas GERBANG.

Diawal-awal Sekolah Warga Kroya membuka kelas rias salon, lalu mulai bulan Maret 2019 kemarin ada banyak kawan-kawan yang sebenarnya pingin belajar setir mobil namun lagi-lagi keterbatasan akses dan modal untuk pergi ke lembaga kursus setir mobil ini yang menggugah kawan-kawan komunitas GERBANG Kroya untuk melahirkan kelas baru yang kemudian diberi tajuk “Kelas Setir Mobil Paradesa”.

Kelas ini dibuka untuk umum, bukan ahli setir memang tapi minimal bisa, dan ada permintaan berbagi ilmu dari orang lain kenapa tidak?. Bukankah salah satu yang terbaik adalah jika kita sebisa mungkin berusaha bermanfaat untuk orang lain salah satunya lewat kelas ini. Dari niat tulus untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan itulah akhirnya resmi kelas setir mobil dibuka.

Sejak 27 Maret 2019 sudah ada 16 kali pertemuan kelas, setiap hari Rabu dan Minggu sore. Pelatihan ini dilaksanakan di Parkir Pantai Widarapayung, Kroya. Selain tempatnya yang luas kawan-kawan warga bisa sembari ngobrol menikmati suasana pinggir pantai yang cair dan semilir.
Meski dilambari dengan ketulusan dan niatnya membuka pintu persaudaraan, Sekolah Warga Paradesa tentu tak luput dari masalah. Kecurigaan kemudian datang, karena sesuatu hal yang harusnya bisa dijadikan uang kini diberikan cuma-cuma. Mungkin mereka tidak paham betapa mahalnya persaudaraan,

hingga nilai uang jauh lebih penting dari bersilaturahmi. Karena bebarengan dengan musim kontentasi politik, Sekolah Warga Paradesa dicurigai sebagai perpanjangan tangan partai untuk mobilisasi masa, untuk pemenangan salah satu paslon legislatif dan presiden. Saking menjamurnya intrik dan kepentingan-kepentingan dibalik berbagai macam peristiwa, nilai kejujuran itu seolah-olah mahal, apalagi kepercayaan nampaknya menjadi barang langka.

Hal ini sedikit mengganggu fokus kawan-kawan komunitas GERBANG juga, namun kemudian dilupakan biarkan waktu yang menjawab dengan konsistensi sampai setelah pilpres, Sekolah Warga tidak pernah berafiliasi dengan partai manapun, didanai oleh paslon manapun gerakan ini murni lahir dari orang-orang yang mau menyisihkan dirinya tidak hanya untuk dirinya sendiri.

Lalu waktu bagai gayung bersambut peserta kelas setir mobil terus membludak hingga harus didata untuk menunggu di pertemuan berikutnya, karena memang keterbatasan armada sebagai sarana kelas dan waktu juga karena kawan-kawan komunitas GERBANG juga harus memenuhi kewajiban tauhid penghidupannya. Keterbatasan armada ini menjadi problem berikutnya, setelah pertemuan kawan-kawan warga berlanjut duduk-duduk sembari menikmati kopi di Warung Kopi Paradesa, disitulah akhirnya solusi didapat. Ada peserta yang mau memberikan armada mobilnya sebagai sarana kelas.

Dan sebenarnya itulah yang diharapkan kawan-kawan komunitas GERBANG. Sebuah masyaradarkat yang mandiri dan bergotong-royong yang ulang-alik butuh dan membutuhkannya terjalin mesra bukan karena transaksi namun karena cinta itu sendiri, selanjutnya adalah kebersamaan dan persaudaraan. Hal ini juga terjadi di daerah-daerah lain, masih banyak orang baik yang menawarkan kebaikkannya, ilmunya semata-mata untuk kepentingan cinta dan persaudaraan karena cuman dari situlah persatuan bisa dirajut.

Indra I Redaksi