Madrim Siap Bantu Buka Pasar Eropa Untuk Kopi Al Musri

161

SUBANG- Pondok Pesantren Al Musri ditantang mengembangkan produk kopinya secara seriua, hal tersebut diungkap Ustadz Nuryamin pengurus pondok pesantren Al Musri Kampung Cikadu desa Tanjungsiang kecamatan Tanjungsiang saat bertemu Bhatari Hyang Janapati Madrim Kusuma Andhini, Kaputrian Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan yang mengurusi hubungan Internasional. Menurut Ustadz Nuryamin dia merasa senang bisa mewakili pondok pesantren sang guru dan dipertemukan dengan orang-orang yang memberi inspirasi bisnis.

“Al Hamdulilah kemarin malam kami ketemu kang Bezie Galih sosok entrepeneur muda Jawa Barat yang memiliki pengalaman bisnis, dan organiasasi yang hebat, tadi saya diberi masukan berharga tentang pengembangan bisnis kopi secara  mendalam, saya juga dikenalkan dengan wawasan bisnis kopi di level internasional oleh ibu Madrim Kusumah Andini, Insya Alloh kami memang akan serius dengan ikhtiar ekonomi pesantren ini,” ungkapnya.

Madrim juga mengapresiasi niat kalangan pondok pesantren yang bergerak dibidang ekonomi umat seperti di Ponpes Al Musri Tanjungsiang Subang menurutnya rencana pengembangan produk kopi Al Musri harus didorong oleh semua pihak karen membawa nama pesantren yang saat ini sedang naik daun di Indonesia.

Perempuan kelahiran Sumedang ini juga menjelaskan cita rasa kopi warga Eropa berbeda beda, faktor kultur dan banyaknya warga negara luar Perancis mempengaruhi ketersedian produk kopi di Pusat kota Perancis.

klik di sini

“Sebetulnya belum ada kopi premium robusta, biasanya asal pahit dan disukai orang-orang magribi, Afrika, Aljazair, Tunisia, nah saat iniDi Paris sedang banyak orang-orang Maghribi atau orang kulit hitam dan mereka penikmat kopi robusta dan agar kopi robustanya lebih elit dibuat dengan kelas premium namun dikemas natural tapi juga harus belajar kepada orang yang ahli dibidang kopi tersebut,”  saran Madrim.

Menurutnya penting untuk bukan sekedar meracik kopi tetapi juga kebiasaan,”Jangan sampai over permentasi dibuat sewajarnya tapi natural biasanya 2 sampai 3 minggu sampai terasa harum,” imbuhnya.

Kopi Luwak Robusta Perlu Dilirik Untuk Pangsa Pasar Kopi Premium Eropa

Menurut Madrim yang masih sering berkeliling dunia ini ada yang kerap menjadi pertanyaan dia dalam ranah perkopian, yakni kopi luwak robusta yang dianggap memiliki daya tarik tersendiri jika bisa menjadi  strategic planning Ponpes Al Musri Tanjungsiang.

“Kopi luwak robusta jika ada, jika ada itu di kumpulkan proyek khusus dalam rangka produksi untuk kopi luwak,” terangnya.

Madrim mengatakan bahwa soal kopi itu bisa diibaratkan sebagai tarian atau seni yang bisa direka gerakannya,” Mau begini atau begitu, bisa menjadi bagian dari membuat daya tarik produk dalam kemasan atau citarasanya, maka dalam kemasannya juga bisa ditulis dengan sejarah yang lengkap misal dari Subang kawasan mana, hubungan sejarahnya bagaimana, kemudian dalam aspek nilai jualnya harus bisa membuat orang yang meminumnya merasa terhormat karena kelas atau strata eklusivitas penikmatnya,” lanjutnya lagi.

Madrim juga menambahkan,” Kemarin saya baru baca ada 23 jenis kopi Jawa Barat yang menang lomba, kalau masalah diterima Saya tidak tahu Tapi saat ini ada bermerk kutum yang pasti selalu ada di setiap Cafe Dan Resto di Perancis, kalau kopi Indonesia itu masih berjuang untuk bisa diterima secara luas di dunia,” imbuhnya.

Dalam rangka memajukan rencana serius ponpes Al Musri, Madrim Kusumah siap mendukung dengan membuatkan semacam kios kopi khas,” Kita buat Le-Warung, kedai kopi khusus yang dibuka di tengah kota Paris dan kopinya dari Indonesia semua salah satunya ya kopi Al Musri ini, tentunya akan melalui trading house, tak perlu banyak-banyak dulu. Yang penting pembeli tahu bahwa ada kopi Indonesia yang beragam salah satunya kopi Al Musri yang asli Subang,” pungkasnya.

Setelah beritanya viral di media, Kopi Al Musri produk sebuah pesantren di Tanjungsiang yang dibawah pimpinan kyai Muhammad Taufik ini disorot ditengah kebangkitan ekonomi pesantren di Indonesia.

Banyak pihak berharap Ponpes Al Musri Tanjungsiang yang belum memiliki peralatan produksi sendiri baik tradisional ataupun modern dalam industri kopinya ini diharapkan kan bisa mewakili kabupaten Subang masuk ke pasar di benuar biru Eropa.

Kiprah Madrim Kusumah Andhini di Kancah Internasional

Madrim Kusumah Andhini  memang konsen terus mempersiapkan ekspor besar besaran komoditas dari Subang terutama rempah rempah dan buah, seperti kopi.

“Sedikit flash back, saya sudah proses perjalanan mempromosikan kopi Indonesia khususnya Jawa Barat, ke luar negeri sejak 2010 lalu. Sejak kopi masih dipandang produk ke tiga apa ke sekian, tidak menjadi yang utama,” kata Madrim, kepada wartawan di Subang, Selasa (09/07/2019).

Kenapa Madrim bergerak, awalnya karena banyak keluhan dari petani. Mereka punya produk tapi, pemasaran susah. Akhirnya dia coba membuka pasar ke luar negeri. Pertama, pihaknya bangun kerjasama dengan Australia, kemudian Belanda, dan dengan Maroko.

“Kebutuhan Maroko total 100 ribu ton per tahun pada tahun 2011. Kita diharap bisa export langsung ke sana tanpa melalui negara ke 3 dan bisa saya wujudkan untuk perdana pada tahun 2013 setelah melalui proses yang alot disupport Pemprov Jabar pada waktu itu,” kata Madrim.

Lalu membuat MoU antara Bupati Subang dengan AWEX Belgia pada 2014. Saat itu, dia juga didaulat jadi brand ambassador, hingga mendatangkan Princess Belgia ke Indonesia.

“Yang dibilang kopi kita sudah enak, sudah bagus, pada kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya benar.

Tanah kita bagus memang, kopi kita juga bagus tapi masalah pengolahan belum tepat. Mesin pengolah kopinya juga belum menghasilkan kopi yang berkualitas. Produk kopi kita belum bisa bersaing dengan Brazil, Kolombia, Kenya dan negara eksportir kopi lain,” paparnya.

Masalah lainnya, kata Madrim, adalah akses infrastruktur. Kalau akses jalan dan sebagainya susah harga kopi jadi mahal. Sebelum Presiden Jokowi menjabat, infrastruktur pedesaan terutama akses jalan belum banyak dibangun.

“Soal bisnis komoditi seperti kopi ini harus dipersiapkan dari hulu ke hilir, dari mulai perkebunan, pengolahan hasil panen, produksi, hingga pemasaran. Pasar di luar negeri sudah dipersiapkan, nah tugas Galuh Pakuan tinggal perbaiki masalah di dalam negeri seperti dipaparkan tadi pakai BUMD PT Subang Sejahtera,” katanya.

Dikatakannya, Indonesia bisa maju kalau bersinergi dan jangan saling sikut.Fungsi dan etika bisnis harus berjalan. Kalau ada pihak yang dilewati nanti tidak berjalan.

“Saya besar harapan dengan Subang dengan kehadiran Galuh Pakuan sebuah lembaga dengan pergerakan out of the box. Indonesia adalah anugerah yang besar, harus kita syukuri. Kita punya pohon kopi, teh, dan komoditi rempah lain. Kita sudah survei, kenapa seperti singkong bukan dari Indonesia. Itu pertanyaan besar kita, kenapa dari Thailand. Maka dari itu, SDM, karakter mental kita harus konsisten menjaga kualitas,” jelas Madrim.

Raja LAK Galuh Pakuan, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi menambahkan terkait pekerjaan besar seperti ekspor komoditi kopi itu sudah disiapkan kerjasama dengan kementerian dan stakeholder terkait.

“Fokus kita di Subang dulu saja, karena proyeksi poros maritim berbasis rempah ini berpusat di Subang,” kata Evi.

M. Ridwan