Bentor Yogyakarta Semakin Tergerus Transportasi Berbasis Aplikasi Online

Foto: Sejumlah Pengemudi Bentor menunggu penunpang di depan Gedung Pos Malioboro, Kota Yogyakarta

YOGYAKARTA- Jika berwisata ke kota Yogyakarta anda akan melihat di pusat kota kendaraan Beca Motor yang sering disebut Bentor bersuliweran di jalanan pusat kota, dari penelusuran data ada sekitar 1500-2000 bentor yang beroperasi di wikayah Pemerintah Daerah Daerah Iatimewa Yogyakarta (Pemda DIY).

Tidak ngebut, karena rata-rata motor yang digunakan tua seperti Astrea 800, Honda Grand hingga Supra yang dimodifikasi dengan kepala beca, kecepatanpun terbatasi.

“Ini motornya Honda astrea, gak ada yang bagus-bagus paling juga motor Supra yang dulu, jadi gak kencang-kencang,” ucap Anang, pengemudi Bentor yang menurutya tergabung di Paguyuban Beca Motor.

Murah dan ramah, itulah salah satu khas layanan bentor Yogyakarta ini, selain murah kepolosan para pengemudi terlihat dari raut muka pa Anang, yang berusia 56 tahun.

“Pekerjaan sudah usia segini, cocoknya bentor karena lumayan mudah mengoperasikan tapi kita harus pintar-pintar mencari penumpang, karena sekarangkan zaman internet (online, red) saingnya kita dengan motor mobil yang pake internet,” tuturnya.

Di pusat kota DIY ada becak kayuh juga untuk jarak dekat, kenyamanan dari bentor dan beca kayuh karena bisa menikmati perjalanan dengan nyaman, melihat pemandangan kota DIY.

“Penumpang biaanya minta diantar keliling kota, belanja oleh-oleh seperti makanan minuman baju, kalau makanan yang khas bapiah kalau tempat sekitar Malioboro,” imbuhnya.

Persaingan Dengan Taksi Online

Lain halnya dengan Udin, 49 pria paruh baya pengemudi bentor itu mengatakan terkadang dia melayani penumpang yang jauh juga, para penumpang sering membandingkan dengan ongkos taksi online.

“Ada sih penumpang yang jaraknya agak jauh yang biasanya kemahalan kalau pakai ojek dan taksi online, dari sisi harganya mereka tau, makanya pake bentor biar murah,” katanya.

Bentor sendiri di DIY Yogyakarta pernah menjadi polemik, pihak Pemda DIY beralasan soal keselamatan penumpang, sementara kepolisian berargumen soal regulasi yang mengacu kepada UU lalu lintas dan tidak terakomodir.

Diberi sticker khusus, dan diakui Pemda DIY membuat Bentor saat ini masih bisa beroperasi. Namun kewaspadaan ketakutan ditilang juga ada, lebih dari itu ada kecemburuan sosial karena ojek online bisa masuk ke jalan-jalan kecil dan menurut para pengemudi bentor berpotensi mengambil pangsa pasar ojek dan bentor lokal.

“Ada pelanggaran dijalan tetep bisa ditilang, maka kadang liat situasi juga, soal jalur ya mengikuti kebiasaan karena sudah hapal jalan, paling kalau hari-hari kerja bukan weekend kita layani yang dekat-dekat,” ucap pria bernama lengkap Nasrudin ini.

Harga taksi dan ojek online sekelas Grabb, Go-jek, dengan layanan eksekutif menjadi persaingan tersendiri, seorang wisatawan lokal asal Bandung pernah dimintai pendapatnya.

“Kita ukuran ke grabb dan gojek sebenarnya gak masalah, ke bentor lebih kepada menikmati suasana kota dan simpel, bedanya juga jauh kalau dari harga, cuma ya itu kita mencari sendiri dan resikonya itu, ada juga perasaan takut ditabrak, kan kitanya didepan,” ungkapnya sambil tertawa.

Taksi dan ojek online juga sudah banyak di Yogyakarta, dan kelebihan mereka menggunakan aplikasi pesan, jarak dan lokasi yang akan ditempuh.

“Saya pernah minta diantar ke Maguwoharjo, Sleman dikira gak jauh, kebalik tukan bentornya kami pandu pakai Google map, karen nyasar-nyasar, belum melintasi jalur utama provinsi kan ngeri juga banyak bis, penerangan bentor minim,” kata Iwan, 45, warga Buahbatu kota Bandung.

Faktor keselamatan dan kenyamanan memang tak jauh dari regulasi, ada baiknya upaya kepastian hukum lebih dipertimbangkan untuknmenjadikan bentor kendaraan pengantar wisatawan yang datang ke kota Gudeg.***