Main Smartphone di Pondok Pesantren Bagian Dari Pendidikan

Mengelola dan meliterasi Soal Tekhnology Lebih Baik dari Sekedar Larangan

SUBANG-Disebagian pondok pesantren smartphone atau handphone cerdas menjadi barang tabu yang tak boleh dimainkan saat berada di pondok atau asrama. Para pengurus biasanya beralasan jika smartphone akan menyebabkan ketidakfokusan anak, terkena dampak negatif tekhnology hingga faktor pemborosan uang.

Di pondok pesantren Darul Falah Desa Cimanggu kecamatan Cisalak kabupaten Subang penggunaan handphone dilakukan terbatas untuk para santrinya seperti diungkap Pimpinan Islamic & Cultural Boarding School, ponpes Darul Falah Subang, Kyai Ridwan Hartiwan.R.

“Alasan ada dampak negatif bisa diterima dan itu logis namun manajemen waktu dilakukan oleh kami dengan mengijinkan penggunaan smartphone secara bersyarat contohnya disaat belajar yang terawasi, ketika program itikaf sambik internetan (netkaf) atau ketika Sabtu santai, selama 3-4 jam santri bisa bermain handphone dengan mematuhi komitmen tertentu seperti adanya grup bersama,” ungkapnya,

Lanjut Ridwan, faktor kejujuran adalah ujian pertama mereka jika ingin bermain smartphobe, harus komprehensif dengan perilaku sehari-hari seperti ngaji, shalat jamaah dan amaliyah sosial yang positif.

“Tidak melarang dan tak membolehkan secara 100% juga, intinya faktor pebdekatan, konseling, adaptasi lingkungan sangat penting, kami menanamkan kepercayaan kepada anak selama 24 jam setiap harinya, mereka dipaksa mengerti soal larangan, dampak negatif dan hubungan sebab akibat,” imbuhnya.

Pengendalian Diri Jadi Role Model Pendidikan Santri

Pendidikan kebersamaan

Pengendalian diri di lingkungan pesantren harus jadi role model praktik kehidupab sehari hari, karena pesantren laboratorium kehidupan di masyarakat. Dan semuanya harus by design & by concept.

“Sejauh ini 90% anak paham dan bisa merubah budaya negatif, tantangan dan hambatan bagi kita adalah support internet, pelatihan sdm, minimnya dukungan pemerintah,” tegasnya.

Pondok pesantren Darul Falah desa Cimanggu kecamatan Cisalak kabupaten Subang menolak pembinaan santri tingkat SMA dalam jumlah besar, menurut Ridwan jumlah yang sedikit memudahkan pengawasan, analisa dan melihat proses dan output pendidikan.*