Ke Tidak Tegasan Partai Demokrat, Dikritisi Banyak Pihak

WARTAKINI.co, KAB.BANDUNG. – Pengamat H. Asep Badrun menyebutkan, “Kemungkinan pilkada 4 pasang masih sangat terbuka. Partai Demokrat seharusnya berani mengambil langkah terobosan dengan memperkuat bangunan koalisinya bersama PKS yang selama ini telah berjalan cukup efektif.”

“Sayang jika partai Demokrat hanya sebagai pendukung pasangan lain, padahal beberapa nama telah dijaring dalam proses internalnya, ini menjadi ujian bagi kepemimpinan politik partai di tingkat lokal (DPC) sejauh mana mampu berperan eksis dalam proses politik Pilkada mendatang di kabupaten Bandung bukan semata terbawa arus permainan politik partai lainnya” demikian melengkapi penjelasannya.

Salah satu peserta penjaringan Bakal Calon Bupati/Wakil Bupati di internal partai Demokrat Asep Buchori Kurnia alias AA Maung menyampaikan,

“Saya mengenal karakter pimpinan DPP Partai Demokrat, seorang SBY dan AHY pasti tidak akan setuju dengan cara dan langkah DPC kabupaten Bandung yang seperti kehilangan marwah menguntit jadi pengekor partai lain di proses Pilkada kabupaten Bandung padahal sebelumnya pernah berkomitmen tegas untuk berjuang bersama PKS”ungkap AA Maung.

Kemudian ia melanjutkan “Pimpinan DPC menjadi tidak memiliki karakter, jangan lupa bahwa kami sudah mengikuti penjaringan hingga penyampaian visi dan misi, jika pada akhirnya mendukung atau mencalonkan orang baru maka, apa fungsinya penjaringan kemarin?”tegasnya.

“Ini bisa digolongkan pembohongan publik, saat para pendaftar diminta bersosialisasi dan tentu saja juga mengeluarkan energi yang tidak kecil lalu tiba-tiba berujung pada penetapan calon yang berbeda, sungguh ironis dan terkesan eksploitatif” tambah AA Maung.

“Ini memang titik persoalannya ada pada kualitas kepemimpinan di DPC yang rendah dan murahan..!” ujar AA Maung menutup pendapatnya dengan cukup serius.

Seperti kita ketahui Partai Demokrat Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu melakukan penjaringan dari sembilan nama tersisa lima nama Ade abdul azis, Erie juono,Deny Zaelani, Dony Mulyana, Asep Buchori Kurnia. Namun kelima nama tersebut seperti diabaikan begitu saja di proses selanjutnya.

(Indra&Endi)