Raja Galuh Nilai Jokowi Tepat Pakai Konsep “Berbagi beban” Untuk Tangani Krisis Saat InI

WARTAKINI.CO,SUBANG- Konsep budaya “Berbagi Beban” yang direvitalisasi oleh Raja Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi SB, di masyarakat Galuh saat ini.

Budaya “Berbagi Beban” ini menurut Evi merupakan akar budaya dari gotong-royong, yang terus di tumbuh kembangkan, dan sudah mulai diterapkan sejak berdirinya LAK Galuh Pakuan.

“Revitalisasi Budaya berbagi beban ini, di masyarakat Galuh, sudah hampir berjalan 9 tahun, dan hasilnya sudah dirasakan oleh masyarakat Galuh saat ini,” ujar Evi kepada wartawan di Subang, Rabu (8/7/2020).

Salah satu contoh “Berbagi Beban” yang sudah dijalankan di masyarakat Galuh kata Evi, yaitu bagaimana masyarakat Galuh bisa menghilangkan ketergantungan terhadap rentenir, atau tengkulak. Ketika masyarakat Galuh memiliki hasil panen cabe rawit misalnya, harganya di Pasar Induk Kramatjati Jakarta mencapai Rp50 ribu per-kilo. Meski hanya memiliki 2 kg cabe rawit, digabung dengan masyarakat Galuh, yang memiliki hasil bumi lainnya. Dengan ongkos angkut Rp500 ribu per-satu ton. Sehingga masyarakat Galuh yang punya cabe rawit yang 2 kg itu, tetap bisa menjual ke Pasar Induk Kramatjati dengan ongkos angkut Rp50 per-kilo, karena berbagi beban dengan masyarakat Galuh yang lainnya.

“Disitulah, yang namanya “Berbagi Beban” itu dengan 2 kg cabe rawit, tetapi bisa di jual ke Pasar Kramatjati seharga Rp50 ribu per-kilo, dengan ongkos angkut hany Rp50 per-kilo,” terangnya.

Tidak hanya sampai di situ lanjut Evi, masyarakat Galuh dalam menjalankan budaya “Berbagi Beban” ini, mulai dari mengobati penderita penyakit kronis, yang tak mampu diakomodir oleh pemerintah. Masyarakat Galuh bisa “Berbagi Beban” dengan donasi Rp10 ribu perorang, akhirnya orang yang sakit itu bisa ditangani medis, dan berhasil sembuh.

“Banyak budaya “Berbagi Beban” ini yang sudah dilakukan masyarakat Galuh hingga saat ini. Termasuk di sektor perikanan, pertanian, dan sektor-sektor lainnya, diberbagai sendi kehidupan masyarakat Galuh menjadi ringan,” tegas Evi.

Bahkan ditegaskan dia, di masa pandemi covid-19 ini, tidak ada masyarakat Galuhbyang teriak meminta bansos dari pemerintah. Justru sebaliknya masyarakat Galuh bisa berbagi ke masyarakat di luar Galuh, dengan menyalurkan berbagai bantuan. Mulai dari paket sembako, benih ikan, dan bibit tanaman buah.

“Selama pandemi covid ini, masyarakat Galuh tidak merasakan dampak ekonomi yang terpuruk akibat covid tersebut. Justru sebaliknya masyarakat Galuh bisa berbagi kepada masyarakat lain di luar Galuh,” imbuh Evi.

Evi juga menyebutkan, ketika budaya “Berbagi Beban” ini diadopsi oleh Presiden Joko Widodo, untuk menangulangi terpuruknya perekonomian bangsa, akibat pandemi covid-19. Langkah yang diambil Pemerintah saat ini, dinilainya, sangat tepat untuk memperbaiki perekonomian bamgsa saat ini.

“Memang harus seperti itu yang dilakukan Pak Jokowi. Tidak hanya dapat menumbuhkan kembali budaya gotong-royong, berupa “Berbagi Beban” di masyarakat. Maka semua permasalahan bangsa saat ini, khususnya permasalahan ekonomi dampak pandemi covid ini, bisa ditanggulangi dengan cepat,” tandasnya.