Tiga Kursi Lurah di Jakarta Pusat Kosong, Tokoh: ‘Pelayanan Masyarakat Jadi Lamban’

WARTAKINI.CO, JAKARTA – Kekosongan jabatan kursi pamong lurah di wilayah Jakarta Pusat antara lurah Bungur dan Gunung Sahari Selatan (GSS) ini dibiarkan kosong hingga berbulan-bulan. Terhitung sejak Desember 2019 lalu.

Akibat dari kekosongan jabatan lurah yang ditinggal pensiun ini, berdampak pada pelayanan terhadap warga masyarakat menjadi lelet dan lamban. Terlebih saat ini wabah pandemi Covid 19 belum berlalu.

Sementara itu, Tokoh masyarakat Jakarta Pusat Budiman menyatakan, dari dua lurah yang pensiun bertambah lagi satu lurah yakni lurah Duri Pulo pada 1 Agustus 2020 besok juga pensiun.

“Sudah ada tiga lurah yang kosong. Tentunya kekosongan jabatan lurah berdampak terhadap pelayanan warga masyarakat. Gubernuri DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan diminta segera menempatkan lurah difinitif supaya pelayanan untuk warga masyarakat dapat berjalan maksimal. Jangan lagi ada Pelaksana Tugas (PLT) atau Pelaksana Harian (PLH) karena kerjanya lamban merespon keluhan warga masyarakat,” ungkap Budiman, Kamis (30/7/2020) siang.

Sebab, kata tokoh ini, perangkat kelurahan harus punya lurah difinitif karena lurah merupakan ujung tombak sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat dalam menjalankan roda pemerintahan ditingkat paling bawah.

“Apa sudah tidak ada lagi Aparat Sipil Negara (ASN) yang cukup memiliki kualifikasi untuk mengisi jabatan lurah. Bagaimana jika terjadi permasalahan di tengah masyarakat baik itu soal pelayanan maupun persoalan sosial yang muncul,” paparnya.

Oleh karenanya, dia berharap Gubernur Anies lebih serius menyikapi kekosongan jabatan lurah di Jakarta Pusat ini.

“Fungsi kepala kepegawaian dan perangkat lainnya yang berkaitan dengan Baperjab seharusnya peka melihat kondisi di lapangan jangan hanya duduk dibelakang meja, sekali-sekali turun ke wilayah,” tandasnya. (Is)