Indonesia Belum Merdeka Pangan

WARTAKINI.CO  – Indonesia belum merdeka dari penyediaan pangan karena kita masih tergantung pada impor. Menurut Direktur Eksekutif CIDES, Prof. M. Rudi Wahyono kita masih tergantung impor terutama pada bukan makanan yang asli Indonesia. “Ini menjadi kesalahan kita sendiri. Untuk itu perlu dilakukan perubahan pola makan kita lebih banyak mengkonsumsi produk-produk domestik hasil tanah kita sendiri supaya lebih sehat,” tuturnya dalam pemaparan dalam Webinar tentang ketahana pangan di masa pandemi, Sabtu malam (8/8/2020).

Kemudian kata Rudi, bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, perlu segera memberikan masukan kepada pemerintah supaya “Merdeka dari Sektor Pangan”. “Supaya kita tidak kalah dengan Vietnam yan sudah mampu menciptakan diversifikasi pangan sehingga daya saing SDM mereka mereka juga lebih tinggi,” katanya.

Webinar yang bertajuk “Bahaya Krisis Pangan Ditengah Pandemi” ini di moderatori Peneliti Muda Cides, Amarizni Mosyaftiani, M.Si.

Kemudian narasumber lainnya Pengamat Pertanian, Dr. Andi Nuhung menyebutkan isu pangan ini menjadi sangat seksi karena menjadi salah satu kebutuhan utama manusia. “Ini menjadi kebutuhan utama setelah bernafas,” ujarnya. Bahkan kata dia sektor pangan bisa menjadi “senjata konvensional” dalam ekspansi. Oleh karena pemberdayaan pangan lokal perlu dilakukan segera. Dia merasa bersyukur pangan di Indonesia variasinya cukup banyak. “Banyak variasi makanan pokok seperti sagu, jagung bahkan pisang. Tapi itu tergeser oleh beras,” katanya

Oleh karen aitu kata dia perlu merubah preferensi tentang pangan.
“Kalau tergantung beras sangat mengkhawatirkan. Jawa sudah kritis dalam produksi pangan harus dialihkan ke luar Jawa. Tetapi infrastruktur pertanian di Jawa lebih mapan. (Sebenarnya) Di Indonesia banyak alternatif,” tuturnya.

Kemudian dia memberi contoh singkong yang bisa dibuat menjadi beras analog dengan propduksi 4 kg singkong bisa menjadi 1 kg beras analog. “Bahkan beras analog ini ditambahkan kadar protein. Sayangnya makanan singkong masih diangap inferior,” paparya lagi.

Kemudian ditambahkan kepada jagung dan sorgum yang memiliki potensi bagus dengan nilai gizi tinggi. “Sayangnya jagung sudah bersaing dengan ternak karena sudah lebih banyak untuk pakan ternak. Padahal nilai gizinya bagus. Pangan non beras harus segera dikembangkan.  Padahal beras itu dalam produksinya termasuk High-Cost.

Indonesia krisis mengorganisir pangan. Memperkenalkan bahwa non-beras masih banyak yang yang nilai gizinya bagus.

Kadua isu tersebut diamini Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono, yang menyatakan mengembangkan pangan alternatif harus benar-benar digarap. “Jangan hanya lip-service,” tegasnya.

Banyak varietas unggul pangan yang dihasilkan Indonesia tetapi tidak ditindaklanjuti dengan layak terutama oleh Pemerintah Daerah seperti kacang lurik dan cabai katokon yang harus segera didaftarkan sertifikasi. “Kita sudah berusaha untuk mendaftarkan agar mendapatkan sertifikasi. Supaya tidak diambil luar negeri,” katanya.

Kemudian Budi mendesak perlu ada kepedulian pemerintah. Dianbtaranya menerapkan strategi mengurangi ketergantungan pangan pada besar sehingga secara bertahap bisa pindah kepada pangan alternatif. Kemudian melindungi secara ekonomi dengan menerapkan pajak pada makanan jadi yang bukan alternatif serta memberikan insentif kepada pertanian.

“Lalu mengangkat pendidikan Pertanian menjadi bergengsi dengan profesi lainnya,” katanya lagi.