©2021 wikipedia
©2021 wikipedia

WARTAKINI.co – Sebagai salah satu wilayah di Tatar Priangan, Kota Bandung dikenal dengan jejak sejarahnya yang ikonik. Salah satu yang paling bersejarah adalah Konferensi Asia Afrika (KAA) 66 tahun lalu.

Forum yang dilaksanakan pada 18 – 24 April 1955 itu tercetus atas semangat perjuangan dari 29 negara se Asia-Afrika. Ke 29 negara ini menginginkan politik kebebasan, setelah pecahnya perang dunia ke II.

Kala itu, Presiden Soekarno mengutus Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo untuk menginisiasi sebuah forum dan dikomandoi oleh empat Perdana Menteri seperti Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Pakistan (Mohammed Ali) termasuk Indonesia (Ali Sastroamidjojo).

Berikut alasan Presiden Soekarno memilih Kota Bandung sebagai lokasi pelaksanaan forum anti kolonialisme.

Miliki Kondisi Politik yang Kondusif

Sebagai salah satu wilayah yang pernah dilanda kekalutan luar biasa, Bandung disebut menjadi satu-satunya wilayah yang berhasil pulih dengan cepat. Hal tersebut didukung dengan situasi politik yang juga kondusif. Mengingat kota-kota besar lain, termasuk Jakarta, saat itu dikuasai serangkaian partai politik yang berubah haluan mengatasnamakan kepentingan golongan.

Selain itu, Jakarta sebagai pusat pemerintahan sedang bersiap menyelenggarakan pemilu untuk pertama kalinya. Sehingga, semua perhatian tertuju ke pusat-pusat parlementer.


Simbol Kota Perlawanan

Seperti yang digaungkan sebelumnya, pemilihan kota kembang sebagai lokasi pelaksanaan KAA, juga dikarenakan sejarah perlawanan yang kuat. Sebut saja pembumihangusan lewat pemberontakan Bandung Lautan Api.

Dalam peristiwa Bandung Lautan Api, Soekarno bersama Sastroamidjojo berusaha mengenalkan semangat inklusivitas, kesetaraan, kerja sama, non-intervensi, perdamaian dunia, dan penghormatan terhadap tatanan hukum internasional.

“Bandung merupakan tonggak awal gerakan kemerdekaan yang ia pimpin untuk memulai perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme,” kutipan yang termuat di buku 50 tahun Indonesia dan Konferensi Asia Afrika’, terbitan Kementerian Luar Negeri.

Jadi Lokasi Pemberontakan Lewat Indonesia Menggugat

Alasan lain menjadikan Kota Bandung sebagai lokasi KAA adalah berdasarkan aktivitas perlawanan Soekarno. Di Bandung, Soekarno membacakan Pledoi di Indonesia Menggungat, tepat ketika ia ditahan pada 1930.

Pembacaan tersebut berisi daftar penderitaan rakyat Indonesia lewat catatan yang diberi berjudul (Indonesie Klaagt Aan = Indonesia Menggugat). Naskah itu disebut tak cukup dibaca dalam satu hari.

“Kita, peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia,” sebut Soekarno dalam pidatonya di pertemuan tersebut.

Kondisi Infrastruktur yang Memadai

Menurut Soekarno, kondisi infrastruktur di Kota Bandung saat itu cukup memadai. Di tahun yang sama, sejumlah daerah justru baru memulai pembangunan tata kota. Di sisi lain, Kota Bandung sudah terbangun dengan rapih. Sejumlah infrastruktur sudah tersedia dengan standar internasional untuk para tamu undangan.

Dalam KAA juga tercetus sejumlah perjanjian di antaranya kerja sama ekonomi, kerja sama kebudayaan, hak-hak asasi manusia dan hak menentukan nasib sendiri, masalah rakyat jajahan,m masalah-masalah lain, deklarasi tentang memajukan perdamaian dunia dan kerja sama internasional yang kemudian dikenal dengan Dasasila Bandung.

Negara-negara yang turut hadir di antaranya, Afghanistan, Indonesia, Pakistan, Birma, Iran, Filipina, Kamboja, Irak, Arab Saudi, Ceylon, Jepang, Sudan, Republik Rakyat Tiongkok, Yordania, Suriah, Laos, Thailand, Mesir, Libanon, Turki, Ethiopia, Liberia, Vietnam (Utara), Vietnam (Selatan), Pantai Emas, Libya, India, Nepal, Yaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here