Pandemi Covid 19 Bangkitkan Kerajinan Gerabah Karang

HOT News

Bangkit di tengah pandemi. PPKM menjadi stimulus geliatnya kembali gerabah Karang yang nyaris punah (foto;: subekti/wartakini.co)

wartakini.co TUBAN – Badai Covid 19 tidak selalu buruk dampaknya. Virus yang memaksa Pemerintah membatasi kegiatan masyarakatnya ini ternyata justru menjadi stumulus bangkitnya kerajinan gerabah di Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding. Warga kampung ini kembali membuat gerabah sejak PPKM diberlakukan, padahal sebelum hadirnya covid 19 kerajinan ini hampir punah di sini.

” Lha daripada nganggur di rumah, nggak bisa ngapa-ngapain, ya apa salahnya kalau bikin kuali (sejenis periuk kecil dari tanah liat) lagi. Lumayan bisa buat beli lauk,” tutur Puji Utami, salah seorang perajin gerabah di kampung itu, Senin (26/7).

Ia bercerita, dulu, sekitar tahun 1990-an, masih banyak warga Karang yang memproduksi gerabah. Terlebih pada musim labuh, yakni musim nelayan panen ikan pelagis, sekitar Mei – Agustus. Pada masa itu hampir semua warga di kampung ini menjadi perajin gerabah dengan peoduk utama kuali. Periuk-periuk kecil dari tanah liat itu permintaan pasarnya tinggi saat musim labuh. Nelayan menggunakannya untuk wadah pemrosesan ikan, terutama teri nasi.

Tapi seiring berjalannya waktu, kuali-kuali produk perajin Karang itu sudah tak diminati pasar. Nelayan kini tak perlu susah-susah memproses sendiri hasil tangkapannya. Di pelabuhan pelaku-pelaku industri perikanan sudah siap menebas ikan hasil tangkapan nelayan. Pelaku-pelaku industri perikanan itu, termasuk yang dikelola Pemerintah, tak membutuhkan kuali gerabah. Mereka sudah memiliki mesin modern untuk memproses ikan. Gerabah Karang-pun pelahan surut. Sebab untuk produk perabot rumah tangga-pun, alumunium dan plastik lebih diminati dan membanjiri pasaran.

” Tempat membakarnya juga sulit sekarang. Sudah nggak ada tanah kosong yang luas. Sudah jadi rumah semua,” lanjut Utami.

Namun pemberlakuan PSBB yang kemudian berganti nama PPKM akibat pandemi Covid 19 ini mendorong warga kembali memfungsikan alat-alat produksi gerabahnya. Meski pasar juga masih tidak terlalu bagus, setidaknya mereka memiliki sedikit modal untuk bertahan hidup di tengah ketidak pastian akibat wabah Covid 19. Selain itu, kampung ini juga kembali ramai oleh suara tepukan tetep, semacam centong kayu yang dipakai untuk membentuk kuali.

Utami tidak tahu pasti berapa harga kuali wadah ikan itu sekarang. Dia mengaku hanya mendengar dari perajin lainnya saat ini harga periuk kecil dari tanah liat itu kirasaran Rp 700-850 per biji. Sehari, jika semua bahan sudah siap, rata-rata 50-100 kuali mampu diproduksi oleh seorang perajin. Kuali-kuali itu mereka timbun dan baru dibakar jika sudah mencapai 1000 biji lebih. Sebab jika di bawah 1000, kata Utami, perajin tidak mendapat keuntungan apa-apa karena habis di pembakaran.

” Membakar berapapun kan biayanya hampir sama. Jadi kalau nggak sekalin banyak ya rugi toh,” timpal Jasmi, perajin lainnya.

Jasmi, Utami dan warga yang kini kembali memproduksi gerabah itu jelas berharap pemerintah setempat sudi melirik mereka. Dulu, memang sempat Pemkab Tuban melalui Dinas Perekonomian dan Pariwisata memberikan bantuan dan bimbingan, karena gerabah Karang ini direncanakan menjadi salah satu destinasi wisata edukasi. Sayang, rencana itu lekang kemudian dan tidak lagi terdengar kabarnya.

Kepala Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan (Diskopinda) Tuban, Agus Wijaya, ketika disinggung masalah ini juga belum bisa memberi kepastian jawaban. Saat ini hanya pelaku UMKM yang telah terdata yang mendapat suntikan modal plus bantuan sosial. Perajin gerabah Karang tidak masuk catatan. (*)

 

Topik Terbaru

Berita PIlihan

Aktifkan Notifikasi Wartakini.co    Aktif Tidak