Aneh, Supply Minus Harga Telor Malah Jatuh

HOT News

Harga telor ayam ras turun drastis di Tuban. Produksi telor masih belum mampu menangkal serbuan telor dari luar sehingga produsen tak mampu mengendalikan harganya (foto: subekti/wartakini.co)

wartakini.co TUBAN – Produsen telor ayam ras di Tuban meradang. Harga telor terus merosot hingga jatuh ke level Rp 17 ribu per Kg pada Sabtu (4/9). Sejumlah peternak ayam petelor mengaku alami kerugian lumayan besar. Rata-rata kerugian yang mereka derita Rp 1000 per kg per hari.

” Tinggal mengalikan saja, berapa kilo (Kg) produksinya per hari. Kalau saya hanya tiga ribu ekor ayam. Hasil telornya 80 persen, ya sekitar 2.400-an lah. Kalau per kilo rugi Rp 1000, ya kerugian saya tiap hari 2 juta 4 ratusan lah, setiap hari, ” tutur Siswanto, peternak ayam petelor warga kecamatan Semanding.

Tren menurun harga telor ayam ras itu, kata Siswanto, sudah terjadi sepekan lalu. Pekan lalu harga telor ayam ras itu masih di kisaran Rp 19.500 per kg di tingkat produsen. Itu saja, tambah Sis, peternak baru mencapai titik impas. Harga di bawah Rp 19.500 per kg, produsen sudah pasti rugi.

” Sulit mensiasati produksi kalau harganya di bawah Rp 19 ribu. Sebab harga jagung naik, naik, naik…. 50 persen ongkos produksi ayam petelur dialokasikan ke jagung sebagai makanan utama ayamnya,” jelas Sis.

Kondisi kemungkinan bakal menjadi lebih parah disebabkan harga telor ayam ras di Blitar di waktu yang sama hanya Rp 16 ribu per Kg. Ali Usman, Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelor Tuban, sudah melihat gejala adanya invasi pasar atas komoditi telor ayam ras ini dari produsen Blitar. Pedagang telor sudah mulai mendatangkan telor ayam ras dari produsen Blitar.

Loading...

Gejolak pasar, lanjut Ali Usman, yang terjadi atas telor ayam ras ini jelas menjadi ancaman kelangsungan hidup peternak ayam ras petelor di Tuban. Semenjak pandemi, sudah banyak peternak yang menutup kandangnya.

” Peternak-peternak skala kecil dengan seribu sampai 3 ribu ekor banyak yang sudah berhenti produksi alias bangkrut. Tinggal beberapa yang skalanya besar. Yang besar-besar itu bisa bertahan karena tidak hanya melayani kebutuhan konsumen domestik,” terang Ali Usman.

Setidaknya 90-an peternak yang masuk daftar Paguyuban di bawah pimpinan Ali Usman tersebut. Produksi rata-rata kisaran 50 ton per hari. Dengan standart konsumsi telor per kapita nasional sebesar 18,16 kg per kapita per tahun, Tuban membutuhkan sedikitnya 93 ton telor per hari. Artinya, produksi telor masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi telor di Tuban. Masih minus 43 ton.

Hukum pasar yang biasa berlaku, ketika produksi komoditi tak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, maka harga komoditi tersebut akan naik. Tapi tampaknya hukum pasar itu tidak berlaku saat ini untuk komoditi telur ayam ras di Tuban. Sebab ketika produsen lokal tidak mampu melayani permintaan konsumen di wilayahnya, maka produsen luar Kabupaten Tuban yang bakal menutup kekurangan supply.

” Sekarang ini kan tidak boleh ada politik dumping, menutup barang dari luar agar nilai produk lokal terjaga. Terlebih telor ayam ras ini masuk komoditi yang tidak boleh diproteksi,” kata Ali Usman lagi.

Ali Usman sebenarnya berharap Pemerintah menata tata niaga komoditi penunjang produksi telor ayam ras, seperti jagung, obat-obatan ternak, dan lainnya. Selama ini harga-harga komoditi-komoditi penunjang itu selalu tidak sejalan dengan harga telor. Harga jagung terus menanjak, demikian pula obat-obatan termak, sementara harga telor produksi peternak ayam ras justru jatuh tersungkur.

” Harapan-nya (buat peternak/produsen ayam ras petelor)  ya tinggal BPNT. Kalau BPNT segera disalurkan lagi, harga telor akan terdongkrak. Kebutuhannya banyak, karena itu harganya bisa menembus Rp 20 sampai 22 ribu per kilo (Kg) saat pencairan BPNT,” pungkas Ali Usman. (*)

 

Topik Terbaru

Related Articles

Aktifkan Notifikasi Wartakini.co    Aktif Tidak