Koperasi Jangan Cuma Jadi Tukang Kredit

HOT News

Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky (Foto : dok. MCT_kominfo Tbn)

wartakini.co TUBAN – Imej yang berkembang di masyarakat bahwa koperasi sama dengan bank harian (Bank Titil) adalah fakta yang tek perlu dibantah. Tidak salah masyarakat memiliki imej negatif seperti itu, sebab kenyataannya memang koperasi lebih banyak bertindak sebagai tukang ijon ketimbang sebagai sarana kesejahteraan rakyat. Alhasil, jika mendengar nama koperasi justru masyarakat kecil lebih banyak menghindar. Padahal, tujuan dibentuknya koperasi adalah agar rakyat memiliki tiang ekonomi yang kokoh. Karenanya koperasi memiliki tugas pokok melakukan usaha pemerataan kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya, malah menjadi tukang kredit harian yang malah membelit kehidupan rakyat kecil.

Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, S.E, menyadari kenyataan itu. Karenanya ia menghimbau pada para pegiat koperasi agar meningkatkan pelayanan demi tercapainya kesejahteraan bersama. Bupati benar-benar berharap koperasi mampu mengangkat ekonomi rakyat dengan berfokus pada usaha pengembangan potensi desa. Himbauan dan harapan ini disampaikan lajang putra mantan Bupati Tuban, Dra. Hj Haeny Relawati Rini Widiastuti, M.Si, itu pada perayaan Hari Koperasi dan UMKM di Pendapa Krida Manunggal Tuban, Rabo lalu.

” Program satu desa satu produk harus segera disambut dengan usaha menggali dan mengembangkan potensi yang ada di desa, sehingga setiap desa punya produk unggulan yang memiliki nilai pasar tinggi. Koperasi harus mampu menjadi motor penggeraknya,” pesan Bupati Aditya Halindra.

Secara khusus Bupati menghimbau agar SDM koperasi ditingkatkan. SDM dimaksud bukan sebatas keahlian pembukuan, tapi koperasi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan manajerial yang lebih bagus, mampu membaca peluang pasar dan mampu memberikan dampingan usaha terutama usaha yang berbasis rumah tangga.

” Ekonomi kerakyatan sebagaimana misi koperasi, bergerak dari sektor rumah tangga. Koperasi harus mampu mendorong tumbuhnya usaha berbasis rumah tangga. Tentu ini dibutuhkan SDM-SDM yang mumpuni, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mental yang tangguh, tidak hanya berpikir tentang laba yang didapat,” terang Bupati Aditya Halindra.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan (Diskopindag) Tuban, Agus Wijaya, tidak menolak fakta bahwa masih banyak koperasi yang tidak menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Ada sebanyak 201 koperasi berlabel Simpan Pinjam dari 640 koperasi yang aktif saat ini.

” Total semua ada 1330-an koperasi yang terdaftar. 640 masih aktif, 690 sisanya sudah tidak aktif lagi, ” terang Agus Wijaya, Jum’at (8/10).

Dari jumlah yang tidak aktif, koperasi simpan pinjam yang dikenal dengan bank kredit harian yang paling sedikit, hanya 21 unit. Sementara koperasi jenis produsen dari 258 unit terdaftar hanya 38 yang masih bertahan, sedang 220 lainnya mati. Bila dibanding denga koperasi jenis simpan pinjam yang semula 228 unit dan masih 201 unit yang bertahan, memperjelas posisi koperasi model tukang kredit yang mampu eksis di tengah badai apapun.

” Bupati ingin koperasi menjadi garda depan pemuliham ekonomi di masa pandemi ini. Kita akan tata kembali dan akan dorong koperasi bisa berperan sebagai mesin ekonomi rakyat,” janji Agus Wijaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Topik Terbaru

Berita PIlihan

Aktifkan Notifikasi Wartakini.co    Aktif Tidak